"Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!"
Seekor anak gajah berdiri dalam kesedihan. Dengan belalainya ia
mengusap lembut, mencoba membangunkan ibunya yang baru saja ambruk dan
mati karena diserang segerombolan singa. Karena terlalu sedihnya, hingga
larut malam ia tak beranjak dari mayat sang ibu.
Demikian tutur Sarah, fotografer yang berkonsentrasi mengabadikan kehidupan satwa di alam liar Kenya.
Benar, kesedihan bukan monopoli manusia saja, tetapi juga dialami semua makhluk hidup.
Lihatlah putri-putri Yerusalem yang berjajar di lorong via Dolorosa.
Mereka menangis saat menyaksikan Yesus harus memikul salib hingga ke
Golgota dengan tubuh penuh luka.
Namun, Yesus malah menegur mereka, "Tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu."
Bagi Yesus, para perempuan Yerusalem tak seharusnya meratapi Dia.
Tetapi seharusnya mereka meratapi dosa dan kesalahan mereka sendiri.
Ya, karena dosa mereka, dosa anak cucu mereka, dan dosa seluruh umat manusialah, Yesus Putra Allah harus menanggung ganjaran.
Disesah, diludahi, diejek, dimahkotai duri, dan disalibkan di atas kayu salib Golgota.
Ajakan Yesus sang Juruselamat untuk menangisi diri kita sendiri
seharusnya menyadarkan kita juga. Agar kita menyesali dosa kita dan
sungguh-sungguh bertobat.
Lalu datang kepada-Nya untuk menerima
pembasuhan darah-Nya, yang tercurah demi membersihkan kenajisan dosa
kita, hingga kita diperdamaikan dengan Allah di surga.
Pengampunan-Nya memenuhi hati kita dengan rasa syukur dan memampukan
kita menjalani hidup baru dengan tidak lagi berkubang dalam dosa.
"MERATAPI DOSA DAN BERTOBAT DALAM KESEDIHAN YANG SUCI MELUAPKAN RASA SYUKUR DAN SUKACITA DI DALAM HATI"