Sabtu, 28 Desember 2013

Akulah…


[Yohanes 1:19-23]
A
kulah suara yang berseru-seru di padang gurun…”. Formulasi ‘Akulah’ atau ‘Aku adalah…’ [mis. Roti hidup, jalan keselamatan, terang dunia, dll] merupakan gaya bahasa yang lazim dijumpai dalam Injil Yohanes. Formulasi itu menunjuk pada proklamasi diri, baik Yohanes maupun Yesus, dalam rangka menegakan ketuhanan Yesus di tengah-tengah orang banyak/masyarakat umum.
Dalam hidup kita sesehari, ungkapan ‘Akulah…’ mengandung makna yang sangat mendalam mengenai siapa dan bagaimana kita. Ungkapan itu, dan juga teks kita mengajak kita untuk mengakui siapa kita sebenarnya, tanpa harus menambah –demi popularitas, atau dikurangi. Eksistensi diri kita itu adalah suatu anugerah dan tidak usah ditambah-tambahkan atau dikurangi/ditutupi.
Sebab menambahkan sesuatu yang tidak ada pada eksistensi kita, membuat kita hidup bagaikan orang yang memakai topeng. Tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, tetapi cenderung memaksakan diri seakan-akan kita adalah orang lain dari sisi penampilan, tetapi tubuh/badan adalah milik kita sendiri.
Yohanes menunjukkan hal itu dalam teks ini, sebab walaupun banyak orang sudah menjadi muridnya, dan banyak orang yang sudah dipengaruhi oleh ajaran-ajaranNya, namun ia sesekali pun tidak mengakui bahwa ia adalah mesias. Melainkan ia menunjuk pada pribadi yang lain yang harus dinanti sebagai mesias. Yohanes sadar benar siapa dirinya.
Ini yang diperlukan ada pada kita semua. Sebab di era dewasa ini banyak orang mau menjadi orang ternama, tetapi dengan mendompleng popularitas orang lain. Padahal ia cukup menjadi dirinya sendiri, sebab dengan demikian saja ia sudah terkenal. Kita harus menjadi diri kita saja, sebab itulah yang dikehendaki TUHAN pada kita. Dengan menjadi diri sendiri, kita mengasah diri dan kemampuan [talenta] kita sambil bersyukur.

Jumat, 27 Desember 2013

Saat ‘Ku Dibaptis


[Markus 1:9-11]
G
ereja sepanjang masa dipanggil untuk memelihara persekutuan ibadah, memberitakan Injil, melayankan sakramen, dan mewujudkan pendamaian dan pelayanan kasih kepada semua orang. Itu adalah empat tanda gereja itu hidup dan ada di tengah-tengah dunia.
Dalam kebiasaan bergereja, hari ini di semua gereja berlangsung ibadah perayaan Natal yang secara khusus dilaksanakan pelayanan Baptisan Kudus. Karena itu, baiklah kita merefleksikan makna baptisan itu bagi kita, dan juga bagi keluarga kita.
Teks kita mengandung beberapa makna pokok tentang baptisan. Pertama, baptisan merupakan bentuk panggilan TUHAN kepada setiap orang, siapa pun dia. Ini ditunjukkan dengan peristiwa, Yesus datang dari Nazaret untuk dibaptis. Hal Yesus datang mengandung makna bahwa orang yang dibaptis itu dipanggil oleh TUHAN. Sehingga hari kita dibaptis adalah hari khusus, hari kita memenuhi panggilan TUHAN. Dalam praktek di GPM, termasuk anak-anak pun dipanggil. Dan itu berarti baptisan adalah panggilan TUHAN atas sebuah keluarga.
Kedua, air merupakan simbol yang dengannya, seseorang dibaptis. Memang selama ini banyak pihak mempertentangkan cara seseorang dibaptis. Namun bagi kita di GPM, cara itu tidak menyelamatkan. Sebab dengan cara apa pun, baptisan itu adalah bagian dari ikatan kehidupan seorang beriman dengan TUHAN. Sehingga yang penting adalah terjadinya ikatan itu, dan ikatan itu dikukuhkan demi Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Karena itu, ketiga, baptisan itu adalah akta yang melaluiNya TUHAN berkenan kepada anak yang dibaptis. Sebab itu setiap orang yang telah dibaptis berkenan dijadikan anak kesayangan oleh TUHAN. Dengan demikian, ia terikat untuk selama-lamanya dengan TUHAN. Baptisan adalah tanda janji untuk hidup kekal dengan TUHAN. Karena itu baptisan tidak dapat diputuskan.

Kamis, 26 Desember 2013

Benar, Dia Lahir


[Lukas 2:8-20]
N
atal telah tiba. Hari Kelahiran Juruselamat telah datang. Kita semua telah menyambutnya. Natal atau kelahiran Yesus Kristus itu sendiri merupakan sebuah peristiwa yang benar. Kebenaran Natal itu terletak pada sebuah bukti yang tidak terbantahkan. Apa yang disampaikan itu tepat seperti yang terjadi.
Yang disampaikan itu ialah kabar para malaikat kepada para gembala, bahwa ‘kamu akan menjumpai seorng bayi dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan’ [ay.12]; dan hal itu benar seperti apa yang dilihat para gembala [ay.16]. Ini artinya berita Natal itu bukan berita spekulatif. Pesan Natal itu bukan pesan kosong. Kedamaian di hari Natal itu bukan sebuah impian. Semuanya terjadi tepat seperti yang dikatakan.
Karena benar, Dia telah Lahir, maka tugas kita adalah menyampaikan berita tentang kebenaran. Kesaksian gereja tentang Yesus Kristus terwujud bukan lagi dalam mengajak orang ke Betlehem, yaitu ke palungan Yesus. Sebaliknya menegakan keadilan dan kebenaran.
Di situlah kita memuliakan TUHAN dan menjadi berkat di bumi. Kita diajak untuk tidak perlu cemas dan takut akan apa pun; terutama akan hidup ini. Sebab kemuliaan TUHAN itu nyata dalam hal-hal yang mungkin dianggap tidak berharga. Palungan adalah tempat di mana kemuliaan TUHAN nyata atas manusia. Seorang bayi pun merupakan wujud dari kemuliaanNya. Bahkan lampin menjadi lukisan nyata bahwa kemuliaan TUHAN itu berlangsung di dalam hidup manusia yang sederhana.
Dan itu semua adalah kebenaran Natal. Dengan demikian, baiklah kita menjalani hidup ini sambil tiap-tiap orang berperan menurut peran yang telah dimilikinya. Tetap bersaksi tentang kebenaran atas semua peran itu. Dengan demikian kita telah menyaksikan kemuliaan TUHAN dan menjadi berkat di bumi.
Selamat Merayakan Natal Kristus, 25 Desember 2013.

Rabu, 25 Desember 2013

Bijaksana, Adil dan Beribadah


[Titus 2:11-15]
A
pa yang harus kita lakukan dalam dunia ini, terutama dalam masa-masa kita merayakan Adventus Natal? Titus mengatakan hanya ada tiga hal yaitu menjadi bijaksana, bertindak adil dan taat beribadah. Ketiga hal itu ia tegaskan sebab selama kita ada di dunia ini, kita menikmati kasih karunia TUHAN yang telah menjadikan kita umat kepunyaanNya sendiri, setelah Ia, di dalam Yesus Kristus, membebaskan kita dari segala kejahatan [baca. Ay.14].
Mengapa harus bijaksana [=berhikmat]? Sebab dunia menawarkan banyak hal yang dapat membuat kekudusan hidup kita tercemar. Di hidup ini kita berhak memilih; namun kita memilih sebagai umat kepunyaan TUHAN yang telah diselamatkanNya. Sebab itu, penting menjadi bijaksana karena kita tidak lagi memilih mana yang baik, melainkan kita melakukan segala yang baik [ay.14].
Mengapa harus adil? Sebab perbuatan kefasikan selalu mengintai. Bentuk kefasikan itu ialah berbohong, dan saling menciderai. Dan itu dapat mencelakai atau membuat orang lain menderita. Hidup dalam kasih karunia TUHAN tidak boleh seperti itu. Sebab itu dituntut untuk berlaku adil.
Mengapa harus beribadah? Sebab kefasikan dan dosa itu mengintai dan dapat menjerumuskan ke dalam dosa. Supaya kita tidak tergoda melakukan kefasikan, baiklah kita membentengi diri kita dengan jalan meningkatkan ibadah dan doa. Dengan melakukan itu, kita akan terus kedapatan sebagai hamba yang dikuduskan dan rajin berbuat baik.
Tiga hal ini sekali lagi merupakan bentuk sikap yang diharapkan dalam seluruh hidup dan masa-masa kita merayakan Adventus. Bijaksana-adil-beribadah, kiranya menjadi tiga kunci sukses kita menjadi hamba yang dikuduskan TUHAN. Dan melaluinya kita selalu rajin berbuat baik.

"DATANGLAH, YA RAJA DAMAI"

Syalom… saudara-saudariku yang terkasih didalam Yesus Kristus, kita bersyukur kepada Tuhan karena atas kasih karunia-Nya kita diperkennakan kembali berpesta iman (celebration of faith) di hari Natal yang kudus tahun ini.
Tema ini adalah nubuatan nabi Yesaya tentang Yesus yang akan datang sebagai pribadi yang berkuasa mendamaikan manusia (pemberontak) dengan Allah yang Maha kudus. Nubuatan ini disampaikan pada abad 8, ditengah kidup dalam ketaatanumatnya yang palsu, dimana seluruh lapisan masyarakat dari level tertinggi sampai terendah sama sekali tidak takut akan Tuhan. Hidup umat-Nya sangat mengecewakan Tuhan, Yesaya menggambarkan kehidupan bangsa ini seperti anggur yang asam (5:2,4). Bahkan Yesaya sendiri mengaku bahwa dia hidup di tengah-tengah bangsa yang nazis bibir (6:5).
Yesaya hidup sezaman dengan Hosea dan Mikha, mereka bernubuat Selama ekspansi (perluasan) kerajaan Asyur,yang diijinkan TUhan menjadi alat “pendidikikan” bagi bangsa pilihan-Nya oleh karena ketidaktaatan, kemerosotan rohani dan kebobrokan moral bangsa ini. Ketaatan palsu membuat kehidupan penuh dengan kepalsuan, di lembaga-lembaga pengadilan tidak di temukan keadilan (keadilan diperjualbelikan), Bait Tuhan tempat perlindungan anak yatim-piatu, janda dan orang-orang yang terlantar, justru mereka dimanipulasi (dimanfaatkan) untuk mencari keuntungan (bdk. 3:14-15).
Dosa membuat hidup jadi kacau, sengsara dan merana bahkan sampai menibulkan keputusasaan. Damai yang diharapkan menjadi hal yang mustahil. Menjalani kehidupan seperti di tengah malam yang “gelap-gulita” atau kegelapan yang mengerikan (9:1a). Tidak ada yang dapat di percaya, diandalkan merubah situasi ini, baik dari pemerintahan maupun dari lembaga-lembaga keagamaan tidak ada yang memberikan angin segar, membawa bangsa ini keluar dari penderitaan yang hebat dan mencekam ini. Dalam situasi seperti ini sangat dirindukan satu pribadi super hero yang dapat mengubah keadaan, bandingkan dengan Film India ketika terjadi ketidak adilan, tuan takur merajalela…. Akan tampil seorang pemuda penyelamat (istilah yang kami pakai “anakmudanya”, tapi maslahnya adalah siapa ankmudanya itu… siapa super hero itu….
Pada saat harapan hampir punah, Yesaya tampil membawa kabar sukacita (cahaya yang besar) yang mengubah kegelapan manjadi terang yang besar. Kabar yang akan mengubah kengerian/ketakutan menjadi sukacita besar (seperti sukacita di waktu panen= menggambarkan sukacita yang tak terkira/terhingga), karena akan datang seorang Raja Damai.
Siapakah Raja Damai itu ? Yesaya menyebutkan Raja Damai itu adalah “Imanuel” (Yes. 7:14), yang di genapi di dalam kelahiran Yesus Kristus, Allah yang menyertai kehidupan manusia (Mat 1:23). Yesaya mencatat empat julukan yang menandai tugas-tugas-Nya sebagai Mesias, yaitu :
1. Penasihat Yang Ajaib
Mesias akan menjadi keajaiban adikodrati. Ia akan menunjukkan sifat-sifat-Nya melalui semua perbuatan dan mijizat-Nya. Penasihat menurut pengertian kami seperti motivator, yang dapat membangkitkan dan mendorong serta menuntun seseorang untuk mencapai kesuksesan hidup.. tapi tidak jarang seorang motivator hanya memberikan “wejangan, atau tips-tips” hidup sukses tapi tidak melakukannya dalam hidupnya. Tetapi keajaban Yesus sebagai penasihat Ajaib, justru Dia tidak mengatakan apa yang tidak Dia lakukan, karena Dia sanggup melakukan apa saja. Itu perbedaannya dengan motivator (para panasihat) kadang bukan karena tidak mau melakukanya tapi justru karena tidak sanggup melakukannya. Sebagai Penasihat Ajaib, Ia merupakan penjelmaan hikmat sempurna dan memiliki kata-kata hidup yang kekal, selaku penasihat Dia menyiapkan rencana keselamatan sempurna.
2. Allah Yang Perkasa
Di dalam Mesias segala kepenuhan ke-Allahan akan berdiam secara jasmaniah. Istilah Allah Perkasa, memberikan keyakinan kepada bangsa Israel suatu kuasa yang tidak terbatas, karena sering kali ada pemahanan bagi mereka “Allah mereka tidak sedahsyat allah-alah yang ada di sekitar Kanaan” yang membuat mereka tergoda berpaling dari Tuhan mereka dan menyembah tuhan-tuhan yang lain.
3. Bapa Yang Kekal
Hal ini bukan saja menyatakan kekuasaan Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi, tetapi lebih menekankan soal “kasih” konsep “bapa” bagi orang Israel yang menganut garis paterialisme adala pribadi yang bertangung jawab, penuh kasih, pelindung dan pemelihara kehidupan. Sebutan Mesias sebagai Bapa menunjukan bahwa Tuhan itu mudah di dekati, bahakan bukan saja Tuhan yang bisa diedakati tetapi justru Dia sendiri yang terus berinisiatif untuk mendekati umatnya, inilah yang di sebut dengan Imanuel (Tuhan beserta kita, Tuhan yang ada dan hadir di tengah kita). Hal ini juga memberikan paradigma yang baru kepada umat Israe, tentang hubungan mereka dengan Tuhan yang mereka sembah, ayitu seorang pribadi yang jauh (transendens), terlalu agung, kudus dan mulia untuk didekati (bdk. 6:5 )
4. Raja Damai
Pemerintahan-Nya akan membawa damai dengan Allah bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian. Raja Damai itu sejajar dengan kata “Sumber damai/pusat damai, pemilik damai, penguasa damai” terminology katanya mungkin bisa kita ibaratkan dengan “raja hutan=penguasa hutan). Artinya setiap pribadi yang mau mendapatkan damai datang dan hiduplah dengan raja damai. Biarkan Raja damai itu tinggal dan berkarya dalam hidup kita sehingga damai itu menjadi milik kita. Jangan cari damai di luar Dia, kita tidak akan menemukannya karena Dialah raja damai (pemilik damai ) itu. Raja Damai berarti juga raja syalom yang artinya raja kemakmuran, ketentraman dan kesejahteraan. Damai yang di terjemahkan dari kata Syalom berarti sejahtera lahir dan bathin
Ke-4 nama yang dimiliki oleh Mesias ini adalah sumber sukacita kita dalam perayaan Natal tahun ini. Melalui kedatangannya yang penuh kuasa, memberikan sukacita dan damai karena Dia memberikan “pembebasan” dari sakit penyakit melalui kuasa penyembuhannya, memberi makan bagi yang lapar, memberi air bagi yang haus, bahkan meberikan kehidupan melalui kuasa kebangkitan-Nya. Inilah yang disebut dengan kabar baik, kabar sukacita yang akan melepaskan manusia dari belenggu ketakutan, melindungi manusia dari bayang-bayang kematian,n yang merenggut/merampas rasa damai dalam kehidupan manusia. Dia yang akan melenyapkan dan menghancurkan kuasa setan permpok kedamaian itu.
Saudara yang terkasih dalam Yesus sejenak kalau kita renungkan kehidupan kita di zaman ini, mungkin kita juga mendambakan “Damai” dalam kehidupan kita, tapi sering kali Damai itu seperti jinak-jinak merpati, seakan-akan dekat tetapi tidak bisa di tangkap. Jangankan kehidupan kita sebagai kaum “awam” (rakyat biasa). Para pemimpin negeri ini , juga sering mengeluh sangat menyedihkan dalam masmedia-masmedia, muncul istilah pemimpin cengeng, pemimpin yng suka curhat. Tapi yang mau kami katakan adalah pemimpin negeri ini yang nb: intelektual dilengkapi oleh pasilitas yang tidak terbatas saja masih mengeluh, apa lagi rakyat biasa yang minim pengetahuan dan hampir tidak punya fasilitas kehidupan, yah tidak bisa di bayangkan lagi. Ini sebuah gambaran bahwa “sungguh tidak ada lagi damai” dalam hidup ini. Sungguh negeri ini membutuhkan seorang raja damai “seorang Super Hero, yang dapat meneyelamatkan memberikan kedamain kepada kita yaitu Yesus Kristus sang Mesias
Tema natal kita tahun ini, menurut kami adalah sebuah “doa” atas kerinduan hadirnya raja damai, di tengah damai itu hampir musnah. Walaupun sebenarnya tidak pun kita undang Dia sudah hadir, Dia berdiri di pintu gerbang hati kita, mengetuk pintu hati kita. Marilah kita buka agar Raja Damai itu masuk dan memerintah di hati kita.
Melalui natal tahun ini, kehadiran Raja Damai, menjadikan kita titsan-titisan raja damai. Kita adalah anak-anak Raja damai, yang bertanggung jawab membawa damai di tengah keluarga dan gereja, dan yang lebih penting lagi di tengah lingkungan kita sebagai wujud (buah) “Peningkatan Solidaritas Eksternal” yang telah kita gumuli sepanjang tahun ini dan menyongsong dan menyukseskan Tahun Peningkatan Kwantitas Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas di tahun 2014. Karena gereja yang diharapkan oleh Tuhan adalah seperti “buah anggur” yang berkualitas, meliputi 3 B, yaitu Banyak, Besar dan Baik. Karena logikanya hasil perkebunan itu dapat mengangkat kehidupan pemiliknya, jika ke-3 B itu terpenuhi. Besar, Baik tapi kalau Cuma 2 mau di bawa kemana. Banyak, Baik, tapi kalau kecil tidak punya nilai jual. Banyak, Besar tapi kalau busuk penuh ulat, siapa yang mau makan ? Melalui Perayaan Natal tahun ini mari kita perjuangkan perdamaian-perdamain dalam hidup, sehingga gereja kita menjadi akan 3B.
Firman Tuhan : Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Mat.5:9)
Jadilah duta-duta perdamaian, biarlah damai itu bergulung-gulung seperti ombak di laut, seperti air mengalir tidak pernah kering. 
Selamat Natal Tuhan Yesus Memberkati.

Selasa, 24 Desember 2013

Berpegang Pada Firman TUHAN


[Mazmur 19:8-15]
S
etiap orang yang hidup, tentu mau mendapat berkat. Dalam Hukum Kitab Ulangan [Ul.28], syaratnya simpel, yaitu jika umat melakukan segala yang difirmankan TUHAN, maka ia memperoleh beragam berkat. Karena itu, berkat tidak bisa dipahami seperti hadiah, door prize atau cendera mata. Berkat itu memiliki makna tersendiri, yaitu pemberian cuma-cuma dari TUHAN tanpa mempertimbangkan jasa manusia.
Dalam Mazmur yang kita baca hari ini, berkat itu diberi TUHAN kepada mereka yang taat mendengar atau menuruti FirmanNya. Menariknya ialah, takut akan TUHAN, tetap menjadi sikap moral-etis atau gaya hidup umat. Malah pemazmur mengatakan, “takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya’ [ay.10]. Ini menunjukkan bahwa beriman itu bukan hal musiman. Sehingga, Desember adalah masa yang baik untuk menunjukkan sikap ‘takut akan TUHAN’. Beriman itu adalah gaya hidup. Jadi harus dinampakkan setiap hari.
Hal kedua yang menarik ialah dalam mewujudkan dimensi takut akan TUHAN tadi, pemazmur memosisikan diri sebagai hamba yang diperingatkan untuk melakukan segala yang difirmankan TUHAN [ay.12]. Jika kita mampu memosisikan diri seperti itu, maka kita tidak akan kedapatan arogan/sombong.
Orang yang sudah tahu bahwa faedah dari beriman itu baik, tetapi ia tidak mau meningkatkan kualitas imannya, adalah orang sombong. Orang seperti itu akan gemar menjadi ‘orang baik-baik’ pada saat bulan Desember, atau jelang Kunci Tahun. Jika ada orang seperti itu, maka ia belum mampu menjadi hamba yang baik.
Orang sombong seperti itu memang mengetahui seluruh seluk beluk firman TUHAN. Namun mereka tidak melakukannya dengan taat/takut akan TUHAN. Sebaliknya, yang berpegang pada firman TUHAN dan menjadikan itu gaya hidupnya, adalah hamba yang rendah hati. 

Senin, 23 Desember 2013

Kemuliaan TUHAN


[Mazmur 19:2-7]
B
elajar dari pemazmur, berarti belajar tentang apa yang menjadi alasan kita harus memuji dan memuliakan TUHAN. Sebab pemazmur adalah orang yang terkagum-kagum dengan segala perbuatan TUHAN, bukan atas dirinya saja, bukan atas bangsanya saja, bukan atas umatnya saja, melainkan atas seluruh dunia, alam semesta dan kepada bangsa-bangsa.
 Kemuliaan TUHAN itu setiap hari tampak bagi kita, sebab selain kita adalah buah ciptaanNya, tetapi setiap saat kita hidup di hari yang baru. Setiap saat kita menyaksikan tanda kemuliaanNya yaitu langit yang cerah, matahari yang terbit sampai terbentam, awan putih dan kemudian mendung, lalu hujan, dan angin yang tetap berhembus.
Jika kemuliaan TUHAN itu mau kita pahami dalam satu hari, tidak usah kita susah-susah mencari di mana tandanya. Sebab tatkala setiap hari kita jalani dari pagi –dengan tanda terbangun dari tidur, kemudian beraktifitas sejak pagi, istirahat makan siang, melanjutkan lagi aktifitas, sampai sore kita pulang dan santai sejenak sambil ‘minong teh sore’, dan beraktifitas lagi di rumah –termasuk pada jam-jam ibadah, lalu makan malam, bersantai bersama keluarga, -termasuk melalui Rumah Doa, lalu beristirahat/tidur malam, dan keesokan paginya hal rutin ini dialami; di situlah kemuliaan TUHAN telah nyata bagi kita.
Karena itu apa yang diceritakan oleh Cakrawala, dalam bahasa pemazmur di sini sesungguhnya adalah hal-hal yang dialami manusia secara normal di bawah langit. Dan jangan lupa, bahwa kita melakukan segala aktifitas, sebagai hal yang normal, lazim atau rutin, tetapi bukan berarti di situ TUHAN tidak menyatakan kemuliaanNya. Justru dalam hal yang bagi kita rutin itulah, kemuliaan TUHAN nyata, yaitu bahwa, IA adalah TUHAN atas hari-hari hidup manusia.

Miringkan TelingaMu, TUHAN

[Mazmur 130:1-8]
O
rang Ambon/Maluku memiliki ungkapan tersendiri tentang permohonan supaya TUHAN mendengar doanya. Ungkapan itu ialah ‘miringkan telingaMu, TUHAN’. Biasa ungkapan ini kita dengar di penghujung doa, sebagai permohonan supaya TUHAN mendengar segala permintaan doa kita.
Jika ditempatkan dalam relasi umat dengan TUHAN, maka permohonan itu dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan dekat dengan TUHAN. Sebab hal miringkan telinga itu berasal dari kebiasaan ‘bisi-bisi’/’bisik-bisik’, di mana orang yang membisik itu mendekatkan mulutnya ke telinga orang yang mau dibisik; dan mengatakan dengan nada yang pelan, sebuah pesan atau permohonan. Relasi ini terjadi kepada mereka yang memiliki hubungan erat. Malah sudah ada rasa saling percaya di antara mereka.
Kualitas dan bentuk relasi seperti itu yang kita harapkan terwujud antara kita dengan TUHAN. Kualitas relasi itu dipertegas dengan adanya sebuah pesan atau permohonan yang disampaikan, dengan yakin bahwa TUHAN mau mendengar dan sudah tentu akan menjawab, dalam arti memberi apa yang dimintakan dariNya.
Sebab itu, doa merupakan wahana utama untuk mewujudkan relasi yang dekat dengan TUHAN. Melakukan segala perintah dan firmanNya merupakan wujud konkrit dari relasi itu. Maka ketika TUHAN memberi berkat, sebagai bukti IA menjawab doa, maka setiap bentuk jawaban TUHAN itu harusnya semakin meningkatkan kualitas relasi kita dengan-Nya. Dengan sendirinya, setiap hari, orang harus meningkatkan kuantitas dan kualitas doanya. Peningkatan kuantitas dan kualitas doa itu berimbas langsung pada kuantitas dan kualitas peribadahan.
Jika wahana utama itu sudah terbina baik, maka kuantitas dan kualitas perbuatan baik dalam hidup semakin meningkat pula. Semangat ini kiranya menjadi semangat ber-Adventus kita. 

Saat Tuhan Pulihkan Kita


[Mazmur 126:1-3]
E
mas, sampai membentuk sebuah cincin atau kalung, telah melewati proses yang panjang, dan salah satunya ialah dilebur dengan api hingga meleleh dan disiram pada wadah untuk membentuk aneka perhiasan. Seperti itu pula dengan bejana tanah liat. Malah ketika didapati retak, dihancurkan kembali untuk membuat lagi yang baru dan yang sempurna.
Namun, pemazmur memiliki gambaran yang unik. Menurutnya, saat TUHAN memulihkan umatNya, ada suatu kondisi hidup baru yang telah dan sedang dialami mereka. Artinya, mereka tidak kedapatan sedang hancur, melainkan kedapatan sedang dalam situasi hidup yang berkualitas.
Mari simak ayat-ayat dalam Mazmur ini. Saat pemulihan itu terjadi tidak disangka-sangka [ay.1 – seperti orang-orang yang bermimpi]. Artinya hari pemulihan itu bukan tujuan hidup mereka. Melainkan berbuat baik sebagai wujud takut TUHAN-lah yang menjadi tujuan. Dengan kata lain, mereka hidup bukan untuk akhir zaman, melainkan untuk melakukan yang baik. Buktinya, pada saat TUHAN memulihkan mereka, mereka kedapatan dalam sukacita satu sama lain [ay.2 penuh dengan tertawa dan sorak-sorai].
Jadi oleh sebab mereka penuh dengan sukacita, karena melakukan hal-hal yang baik, di saat itulah TUHAN melakukan hal-hal yang jauh di luar dugaan umat. Ungkapan lazim di masyarakat kita ialah ‘TUHAN biking Antua pung bageang’ atau ‘TUHAN ambel bageang’.
Kondisi itu merupakan suatu hal yang ideal dan diharapkan oleh TUHAN dari kita. Karena itu Adventus sebagai masa penantian bukanlah satu-satunya waktu untuk menjadi saleh atau beriman. Setiap hari dituntut dari kita kesalehan hidup. Sebab itu setiap hari harus diisi dengan perbuatan baik. Sebab setiap waktu pula TUHAN dapat melakukan pemulihan dalam bentuk apa pun atas kita. Intinya, kita harus selalu kedapatan sedang dalam sukacita karena melakukan hal-hal yang baik.

Buah dari Percaya


[Mazmur 125:1-5]
T
anpa percaya atau iman kepada TUHAN, manusia tidak mendapat kesejatiannya. Sejatinya manusia itu ketika ia menyadari bahwa ia hasil ciptaan tangan TUHAN. Kesadaran sebagai hasil ciptaan, menjadi dasar dari kesadaran beriman. Sebab dengan kesadaran itu manusia percaya bahwa, ia dijadikan oleh kuasa yang menjadikannya, dan kuasa itu ialah TUHAN.
Buah dari percaya, menurut Mazmur 125:1-5 dapat dilihat dalam hal: [1] kehidupan yang stabil [ay.1], dalam arti tegar walau di tengah berbagai masalah. Ini bukti dari adanya kemandirian sikap iman; [2] kekudusan diri karena TUHAN ada selalu dalam hidup umatnya [ay.2]; ini disimbolkan dengan Yerusalem yang dijaga sekelilingnya oleh TUHAN. Hal ini sebenarnya merupakan wujud bahwa TUHAN ada di dalam hidup umat yang beribadah, sebab Yerusalem yang dimaksud di sini menunjuk pada Bait Allah; [3] kebenaran melingkupi orang yang percaya [ay.3], dan segala perkara ketidakadilan/kefasikan jauh darinya, serta tidak sanggup menjeratnya; [4] mendapat kebaikan TUHAN, dalam hal menikmati kasih setiaNya sepanjang waktu [ay.4-5].
Dari keempat buah itu, umat akan benar-benar dijauhkan dari segala rancangan kejahatan dan ketidakadilan yang dirancang oleh orang-orang yang tidak percaya kepada TUHAN. Suatu wujud kasih setia TUHAN yang nyata.
Lagi-lagi, syaratnya adalah percaya atau hidup hanya mengandalkan TUHAN. Dengan demikian kesejatian manusia itu menjadi sempurna. Sebab itu, sebagai hasil ciptaan TUHAN, kita harus menaklukkan diri di bawah kuasa TUHAN, dan tidak menjadi orang-orang yang sombong. Sebab kesombongan membuat kita terjebak melakukan tindakan-tindakan ketidakadilan, kekerasan, dan semua itu adalah wujud dari kefasikan. Orang percaya itu tahu segala hal yang baik untuk dituruti dan yang buruk untuk dijauhi. Dengan menuruti segala yang baik, maka ia akan menjadi orang percaya yang kokoh.

Jikalau Bukan Tuhan


[Mazmur 124:1-8]
P
emazmur selalu mengajarkan hal-hal yang berfaedah bagi hidup seorang manusia. Dan satu hal yang berfaedah adalah hidup dengan hanya mengandalkan TUHAN. Karena orang yang mengandalkan TUHAN adalah orang percaya yang takut TUHAN. Orang yang takut TUHAN adalah orang yang memahami keterbatasan dirinya, lalu tidak sombong, melainkan rendah hati, sambil yakin bahwa di dalam kelemahannya itu, TUHAN memberinya kemampuan. Artinya, TUHAN tidak akan meninggalkan dirinya sesaat pun.
Dalam teks hari ini, pemazmur menyatakan iman, dan mengajak kita untuk menyatakan iman yang sama, bahwa ‘jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, tentu kita sudah binasa’.
Sebab itu, jika sampai hari ini kita masih hidup dan berkesempatan untuk merayakan Adventus Natal, itu terjadi sebab TUHAN di pihak kita. Kita memiliki banyak masalah, namun itu tidak membuat kita hancur, juga sebab TUHAN di pihak kita. Ada banyak hal yang sulit kita hadapi, dan kita nyaris tak dapat menyelesaikkannya sendiri, namun kita tiba-tiba saja dimampukan mengatasinya, juga karena TUHAN di pihak kita. Kita mengalami dukacita dan kesedihan, namun dalam kesedihan dan dukacita itu kita tidak menyangkal TUHAN, juga karena TUHAN di pihak kita. Bangsa dan daerah ini dihantui bermacam-macam isu dan peristiwa bencana, namun kita tidak dibiarkan binasa sia-sia, juga sebab TUHAN di pihak kita.
Dan hal TUHAN di pihak kita, tidak mesti dipahami bahwa walau kita berdosa sekali pun IA tetap di pihak kita. Hal TUHAN di pihak kita dalam bahasa pemazmur ini adalah hal TUHAN menyatakan cintaNya yang lebih kepada umat yang takut akan Dia dan mau hidup bersandar sepenuhnya kepada TUHAN. Umat yang jujur, setelah mengaku dosanya, dan tidak melakukan dosa itu lagi. Kepada mereka seperti itu, TUHAN tetap menyatakan keberpihakannya kepada mereka; kepada manusia yang takut TUHAN.

Minggu, 22 Desember 2013

Menabur Sambil Berjalan Maju


[Mazmur 126:4-6]
U
ngkapan ‘orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya’ [ay.5-6], menjadi menarik untuk dipahami dalam rangkaian Adventus Natal tahun ini.
Ada aktifitas yang sama yang mau ditonjolkan di situ, yaitu ‘menabur dan menuai’. Biasanya kita sebut juga ‘hukum tabur-tuai’ –yang sering diidentikkan dengan pemahaman ‘sapa biking bae, dapa bae; sapa biking seng bae, dapa seng bae’. Ada semacam paham balas jasa seimbang, dalam pemaknaan kita terhadap ‘hukum tabur-tuai itu’.
Namun pemazmur memunculkan suatu realitas yang lain dalam hal ‘tabur-tuai’ yang sekaligus menjadi semangat baru bagi kita dalam menjalani Adventus Natal tahun ini.
Simaklah keadaan orang-orang yang menabur dalam ay.5 dan 6 tadi. Mereka disebutkan menabur dengan mencucurkan air mata, dan terus menabur tiada hentinya [=berjalan maju] sambil menangis. Artinya, orang yang menabur ini terus melakukan tugas panggilannya walau di tengah tantangan yang sangat berat. Sebab hal mencucurkan air mata atau menangis itu simbol dari adanya tantangan yang sangat berat. Namun si penabur tidak mundur atau tidak berhenti, melainkan disebutkan terus menabur tanpa henti, atau terus ‘berjalan maju’.
Karena penabur itu kedapatan terus melakukan tugasnya di tengah tantangan, ia dihadiahi berkat –dalam gambaran menuai dengan sorak-sorai, sambil membawa berkas-berkasnya. Jadi sepanjang Adventus ini kita dimintakan untuk terus melakukan apa yang menjadi tugas panggilan kita meski di tengah tantangan yang berat sekalipun. Jangan mundur, melainkan ‘berjalan maju’.

Introspeksi Iman


[Mazmur 123:1-4]
H
idup, berarti  ada hubungan dengan orang lain. Dan dalam hubungan ada proses saling mepengaruhi satu sama lain. Artinya, apa yang kita lakukan dapat berimbas [positif dan negatif] terhadap orang laing atau sebaliknya. Ini menandakan bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari amatan, penilaian, bahkan teguran sesama kita.
Dalam berelasi dengan sesama, kadang pula kita kedapatan tidak sanggup menghadapi segala penilaian dari sesama. Kita sering dikurung dalam perangkap ‘kesalahan’ –seakan-akan kita adalah orang yang paling berdosa di muka bumi. Dalam hal kerja, karena penilaian-penilaian tersebut, bisa saja kita mengalami praktek ketidakatilan.
Pemazmur mengajak kita menghadapi situasi seperti itu dengan melakukan tindakan introspeksi iman/spiritualitas. Simaklah ayat 1 dan 2 bacaan kita. Penggunaan istilah seperti ‘melayangkan mataku, memandang kepada tangan tuannya, memandang kepada tangan nyonyanya’, dan pemosisian dirinya sebagai hamba terhadap tuan yang adalah TUHAN itu sendiri, merupakan suatu bentuk introspeksi iman/spiritualitas.
Hal yang mesti kita lakukan ketika kita dituduhkan melakukan kesalahan, atau dicemooh dan difitnah dalam masyarakat, ialah ‘memandang kepada TUHAN’. Hal ‘memandang kepada TUHAN’ di sini ialah memusatkan segenap aktifitas hidup pada mempererat relasi dengan TUHAN, dan bukan menyibukkan diri dengan segala  macam cemooh dan fitnah dari sesama. Ini dilakukan oleh orang-orang benar yang diperlakukan tidak adil.
Dengan demikian kita dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik; sebuah kualitas iman yang menjadikan kita anak yang takut TUHAN dalam segala peran dan aktifitas sesehari kita.
 

Iman dan Kesejahteraan


[Mazmur 122:1-9]
J
ika kita mencoba memahami realitas peribadahan kita di GPM, maka suasana peribadahan itu, dan penempatan tempat duduk, sudah sangat memperhatikan kesetaraan antarumat; dan tidak ada tempat yang dikhususkan untuk golongan sosial tertentu, atau jenis kelamin tertentu.
Jika kita memperhatikan urut-urutan liturgis, saat tiba pada Persembahan Kudus, semua jemat memberi kolektanya, tanpa disyaratkan besar kecil jumlah menurut tingkat ekonomi jemaat yang dalam realitasnya, berbeda. Itu berarti, TUHAN menerima apapun yang kita persembahkan kepadaNya, tanpa mengecualikan atau mengutamakan satu daripada yang lain.
Dan praktek liturgi apa pun yang berlangsung dalam ibadah, semuanya berlangsung dalam kesetaraan satu sama lainnya. Dan itu satu aspek hidup dan iman yang kita jumpai tatkala kita beribadah sepanjang waktu. Dengan demikian pesan penting dari itu ialah setiap orang sama di hadapan TUHAN, walau ia memiliki status sosial yang berbeda. Di hadapan TUHAN semuanya lebur menjadi satu, karena itu orang yang datang beribadah disebut/disapa dengan sapaan yang sama ‘Jemaat yang dikasihi dalam TUHAN Yesus’.
Pertanda bahwa, oleh iman, setiap orang yang datang beribadah, datang dengan membawa berkat-berkat yang telah diperolehnya dari TUHAN, guna dipersembahkan kepadaNya, sebagai persembahan kudus, persepuluhan, pengucapan syukur. Ia tidak datang dengan kemiskinannya. Ia pun tidak datang dengan kekayaannya. Melainkan datang sambil membawa berkat yang diberi TUHAN guna dipersembahkan kepadaNya pula.
Itu artinya, iman yang tampak dalam ibadah jemaat adalah iman yang mensejahterakan. Karena itu, setiap orang yang diberkati, di mana pun ia berada, dari mana pun ia datang; maka tatkala ia datang dalam ibadah, ia datang sambil membawa berkat yang ia terima dari TUHAN.

Hati-hati Terhadap Perpecahan

 [Lukas 12:49-53]
Y
esus datang untuk membawa damai, bukan perpecahan. Namun bagaimana jika teks hari ini justru mengatakan sebaliknya, bahwa IA datang untuk membawa perpecahan? Dapatkah itu kita terima dengan akal dan iman kita yang selama ini percaya bahwa IA adalah Jurudamai?
Teks ini menyaksikan hal yang lain dari pemahaman iman kita secara umum mengenai hakekat kedatangan Yesus. Baik, marilah kita berusaha memahami maksudnya, sambil berusaha lebih sungguh-sungguh lagi supaya kondisi yang disaksikan teks ini tidak terjadi dalam hidup kita.
Kata-kata Yesus dalam injil ini dialamatkan dalam situasi hidup umat yang sudah tidak lagi mengembangkan rasa peduli satu terhadap lainnya. Krisis kepedulian terparah justru terjadi di dalam keluarga atau antar keluarga. Ikatan-ikatan kekeluargaan dan persaudaraan sudah tidak dihormati lagi, karena manusia mengejar kepentingan pribadi, mencari untung bagi dirinya, dan sampai-sampai nekat untuk mencelakai atau tidak mempedulikan saudaranya sendiri.
Karena itu, sesungguhnya cerita ini mewakili suasana yang sama dalam Kitab Nabi-nabi. Yaitu ketika umat mengharapkan datangnya Hari Tuhan, atau kedatangan Mesias sebagai pembawa damai, justeru mereka kedapatan hidup individual dan tidak memiliki kepekaan atau kepedulian sosial kepada orang-orang miskin, yang adalah saudara atau keluarga mereka sendiri.
Karena itu Yesus sesungguhnya hendak mengkritik hal itu, sebab jika tidak diperhatikan, maka perpecahan dalam keluarga dapat saja terjadi.  Dengan kritik itu Yesus sesungguhnya hendak menganjurkan agar umat semakin peduli kepada sesama dan saudaranya. Sebab esensi kehadiran Yesus adalah memulihkan setiap relasi antarmanusia, antaranggota keluarga, dan meningkatkan pelayanan kasih yang lebih kepada semua [keadilan sosial].