Sabtu, 21 Desember 2013

Hamba yang Naik Kelas

[Lukas 12:40-46]
N
aik kelas. Dapat promosi jabatan baru. Naik pangkat. Setidaknya tiga jenis ‘kenaikan’ ini membuat hati bersukacita. Kecuali satu, yaitu ‘harga barang naik di pasar’, Wah, gelisahnya minta ampun; walau gaji baru saja dinaikkan. Alhasil semua orang punya gerutu yang sama, yaitu ‘dewasa ini semuanya naik terus, tidak turun-turun, dan yang turun hanya hujan’.
Masih melanjutkan renungan kita di hari kemarin, satu hal menarik yang muncul dalam teks kita hari ini ialah, ketika hamba itu kedapatan siap sedia, kepadanya diberi tanggungjawab yang lebih besar, yaitu ‘menjadi pengawas segala milik tuannya’ [ay.44], jadi dari dalam rumah sampai di ladang dan ternak, serta apa pun yang dimiliki tuannya itu. Wah, hebat benar hamba itu.
Nilai yang kita petik dari situ adalah kesetiaan dalam melayani membangun dimensi saling percaya di antara hamba dengan tuannya. Hamba itu percaya bahwa tuannya akan kembali ke rumahnya, dan tuannya itu percaya hamba itu selalu menjaga rumahnya dengan baik, dan siap melayani kapan pun tuan itu datang/pulang ke rumahnya. Jadi hal ‘naik kelas’ adalah buah dari rasa saling percaya di antara hamba itu dengan tuannya.
Dengan demikian, melalui pekan-pekan Adventus ini kita belajar untuk memahami bahwa, kesediaan kita melayani, membentuk rasa percaya kita yang sungguh kepada TUHAN. Rasa percaya tidak bisa tumbuh jika kita pasif dengan iman kita. TUHAN memberi kepada kita hikmat, supaya kita percaya bahwa IA tidak sekedar memberi kita satu pekerjaan dan dari pekerjaan itu kita tidak mengalami perubahan. Sebaliknya dengan memberi pekerjaan, walau kecil bentuk dan nilainya, asal kita tekun bekerja dan melayani, ada perubahan besar yang tentu diberi TUHAN kepada kita. Dan kesungguhan kita melayani menjadi jaminan bahwa, kita akan bertumbuh, berkembang, menghasilkan buah dan mendapat banyak berkat.

Waspadalah

 [Lukas 12:35-39]
K
ita mengulang lagi renungan kita di hari Minggu, 08 Desember 2013. Kali ini kita lebih fokus melihat etika hidup seorang hamba, yang dalam teks ini, disebut Yesus sebagai yang siap sedia/waspada menanti kedatangan tuannya.
Jika dalam surat Paulus ditekankan aspek moral-etik sebagai jaminan keselamatan di hari TUHAN, maka dalam Injil Lukas ini, Yesus lebih menyoroti pada kesiapan seorang hamba. Memosisikan diri kita sebagai hamba, maka hal yang menarik dari relasi kita dengan TUHAN adalah bagaimana kita siap sedia untuk terus bekerja/melayani.
Jadi bukan soal kapan hari TUHAN itu datang. Soalnya lebih pada kesiap sediaan kita untuk terus melayani kapan pun dan dalam keadaan bagaimana pun. Sebab dengan kesiapan itu, maka kualitas pelayanan kita terus meningkat.
Lihatlah betapa Yesus melukiskan hal itu begitu indahnya. Yakni bahwa, jika hamba itu selalu waspada/siap sedia, maka di tengah malam sekalipun, tatkala tuannya datang, ia langsung membuka pintu, mengikat pinggangnya, mempersilahkan tuannya duduk makan, dan melayani mereka [ay.37]. Yesus menyebut sikap ini dengan ungkapan ‘berbahagialah’.
Jadi di hidup ini, yang utama adalah bagaimana kita tetap siap sedia melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada kita. Sebab kesiap-sediaan kita itu menjadi bukti bahwa kita bukanlah orang suruhan yang bekerja/melayani hanya demi popularitas, uang dan kepuasan duniawi. Kita melayani karena kita sadar siapa kita sesungguhnya, yaitu hamba bagi TUHAN.
Sebab itu, di ayat 35 Yesus mengatakan ‘hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala’. Suatu ungkapan yang menegaskan agar kita tetap menjadi hamba yang mampu bekerja dan bersaksi di segala waktu dan pada segala situasi.[

Saling Memberi Salam

 [2 Tesalonika 3:16-18]
S
etiap kita selalu memberi salam seorang akan yang lain. Kata-kata salam itu ada banyak. Salam yang menunjuk dimensi waktui, seperti Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Malam. Yang menunjuk dimensi kehidupan seperti Selamat Ulang Tahun, Selamat Panjang Umur. Tetapi juga yang menunjuk dimensi kehidupan yang bermutu, seperti Salam Damai Sejahtera, atau Shalom, atau dalam teks ini, Eirene.
Pada pekan Adventus II ini, kita diajak melalui teks ini untuk memahami bahwa esensi dari ‘salam damai sejahtera’ [eirene] ialah perjumpaan dalam segala situasi hidup dengan sesama. Benar, bahwa kita biasanya menitipkan salam kepada seorang saudara kita. Tetapi mari kita simak, bahwa hal ‘titip salam’ itu terjadi karena kita telah terlebih dahulu berjumpa dengan seseorang yang menjadi bagian hidup orang lain, yang kepada mereka salam kita titipkan.
Jadi perjumpaan itu esensi dari hal memberi salam. Sebab memberi salam itu sama arti dengan kita bersyukur, bahwa TUHAN masih memelihara kita dan juga saudara kita. Dan bukti TUHAN memelihara itu kita lihat langsung, sebab kita berjumpa secara langsung. Kemudian sebelum berpisah, kita memberi salam, juga sebagai doa bahwa TUHAN akan tetap memelihara saudara kita itu. Malah ketika kita menitipkan salam kepada anggota keluarganya, maka kita pun mendoakan bahwa TUHAN yang memelihara saudara kita itu juga memelihara anggota keluarganya yang lain.
Jadi, di hidup ini, kita tidak boleh menghindari dua hal. Pertama, jangan menghindar untuk berjumpa dengan sesama atau saudara kita. Sebab perjumpaan itu dikehendaki oleh TUHAN. Kedua, setiap perjumpaan, jangan lupa memberi salam, sebab salam itu adalah doa keselamatan. Dan menjelang pisah, jangan lupa memberi salam kepada saudara yang lain; sebab semakin rajin kita memberi salam, semakin rajin kita berdoa kepada saudara-saudara kita.

Anak-anak Siang

 [1 Tesalonika 5:1-11]
H
ari TUHAN secara umum dipahami sebagai masa kedatangan Yesus yang kedua kali, atau masa penghakiman.  Konsep ini menjadi populer sejak zaman Perjanjian Lama, sampai di zaman Yesus, oleh karena adanya pemahaman tentang surga dan neraka. Di mana surga adalah tempat bagi mereka yang berkelakuan baik, dan neraka bagi yang berkelauan jahat.
Di dalam Perjanjian Baru, konsep hari TUHAN itu lebih ditekankan pada bagaimana kualitas perilaku hidup kita dijaga; sebab hari TUHAN telah dipahami sebagai hari pengakiman. Antara orang baik dan orang jahat akan sama-sama dihakimi dan hakim akan menjatuhkan keputusan yang adil/setimpal.
Rasul Paulus sesungguhnya tidak terlampau memikirkan kapan waktu yang tepat hari TUHAN itu tiba. Ia menyebut, hari TUHAN tiba seperti pencuri di malam hari. Tidak diduga, tidak disangka, dalam keadaan siap atau tidak, bisa saja terjadi.
Karena itu, yang penting adalah bagaimana memelihara perilaku hidup. Meningkatkan kualitas moral, etik dan spiritual. Sebab itu dengan menyebut kita sebagai anak-anak siang, rasul Paulus menegaskan agar kita selalu hidup dalam kesadaran –tidak melakukan hal-hal di luar kontrol diri; beriman dan berpengharapan. Anak-anak siang itu selalu berjaga-jaga. Hal berjaga-jaga di sini bukan berarti kita tidak boleh tidur, karena kalau ketiduran maka kita tidak tahu kedatangan TUHAN.
Berjaga-jaga di sini lebih pada daya tahan untuk menghindari godaan ‘anak-anak gelap’, yang suka mabuk sepanjang waktu; dan hidupnya tidak tertib karena tidak menuruti perintah TUHAN. Berjaga-jaga berarti selalu sadar akan apa yang kita lakukan, lalu terus berusaha memperbaiki sikap hidup sepanjang waktu. Bukan pula tunggu mau Natal baru membenahi perilaku. Sepanjang waktu, selama kita masih sadar bahwa kita dikasihi TUHAN.

Teruslah Melakukan yang Baik

[Yeremia 22:4-7]
C
erita Bawang Putih dan Bawang Merah merupakan cerita atau dongeng pengantar tidur anak. Kisahnya sesungguhnya sederhana. Sebab berkisah tentang anak yang baik kelakuannya, yakni Bawang Putih, dan yang buruk kelakuannya, yakni Bawang Merah.
Dari cerita itu kita selalu mendapat gambaran tentang konsistensi Bawang Putih untuk terus menjadi anak yang baik. Sebaliknya Bawang Merah, saudaranya selalu mau melakukan hal yang salah. Walau akhirnya itu disesalinya.
Contoh sikap seperti itu selalu ada dalam hidup kita sesehari. Ada orang yang selalu konsisten melakukan kebaikan, walau ia digoda untuk melakukan hal yang salah. Ia tidak bergeming sedikit pun. Walau ia hidup serumah dengan orang yang melakukan kesalahan, ia tetap tidak tergoda, sebaliknya dapat mengubah orang yang suka melakukan hal yang buruk.
Penting kita bertanya, mengapa orang selalu kedapatan konsisten melakukan kebaikan? Teks kita menjawab, bukan karena ia takut dihukum. Sebaliknya karena ia mencintai hidup. Dan hidup yang dimaksud di sini adalah hidup yang memberi sukacita kepada banyak orang. Bukan hidup yang membawa petaka.
Sebaliknya orang cenderung melakukan berbagai hal yang buruk juga bukan karena ia tidak tahu resiko dari tindakan buruknya. Sebaliknya, ia sangat tahu semua resiko itu, tetapi karena itu tidak mencintai hidup. Hidup baginya adalah memperoleh kepuasan sesaat.
Natal membelajarkan kita untuk mari kita memiliki perspektif yang benar tentang hidup. Sebab hidup adalah berkat. Dan hidup adalah kesempatan untuk semakin taat kepada TUHAN, menuruti segala firmanNya dan menjadi cerdas.

Kado dari TUHAN

[Yeremia 23:7-8]
K
ado Natal selalu menjadi barang special bagi semua orang. Walau demikian, mungkin ada orang yang tidak pernah mendapati kado special. Artinya mereka menjalani Natal dalam situasi yang berbeda dari orang lain. Pendapat ini benar-benar saja. Tetapi jika kita memahami Natal sebagai sebuah waktu [kairos], atau kesempatan khusus yang diberi TUHAN kepada semua umat, maka ada sebuah kado istimewa yang diberikan TUHAN dan dimiliki oleh setiap manusia, siapa pun dan di mana pun ia berada.
Kado itu adalah hidup bersama dalam satu persekutuan keluarga, jemaat, negeri. Dan itu adalah sebuah waktu [kairos] yang kudus. Di dalam waktu itu ada banyak kesempatan yang bisa dan harus dimanfaatkan. Dan kesempatan yang paling baik adalah berdamai, bersekutu, hidup bersama-sama, saling menyayangi dan saling mengasihi satu sama lainnya.
Sebab itu memang benar, setiap Natal tiba, kerinduan untuk berkumpul itu begitu tinggi. Anak-anak atau anggota keluarga yang ada di luar daerah, semuanya diharapkan atau atas maunya, pulang kembali ke rumah semata-mata karena mereka merasa tidak indah jika Natal terpisah dari keluarga.
Dalam kaitan itu, Natal sekaligus merupakan kesempatan untuk berdoa meminta TUHAN mengutuhkan relasi rumah tangga kita, mengutuhkan dengan jalan menyadarkan anggota keluarga untuk tidak mengabaikan tanggungjawab atas rumah tangga sekecil apa pun. Sambil yakin, akan ada bentuk kebaikan TUHAN yang terjadi atas relasi rumah tangga kita.
Sebagai Jemaat Rumahtiga, kita pasti memiliki pengalaman tersendiri, tentang bagaimana TUHAN menghimpunkan dan mengembalikan kita ke negeri dan jemaat ini. Itulah sebabnya, saat ini kita semua harus yakin bahwa, kita sudah mendapat kado yang indah dari TUHAN, yaitu berkumpul dan hidup bersama di Rumahtiga kembali.

Jumat, 20 Desember 2013

Jangan Tinggal Diam


[Lukas 12:47-48]
A
da banyak aturan dalam hidup berkeluarga yang telah disepakati dan mesti dijadikan bagian dari pedoman kehidupan. Aturan-aturan itu tidak boleh dilanggari secara sengaja maupun tidak. Sebab, bisa menimbulkan keretakan, misalnya antarsuami-isteri. Atau pula menyebabkan ketidaktertiban hidup, misalnya antaradik-kakak. Setiap kita melanggar aturan-aturan itu, pasti ada masalah, seperti ‘baku marah, laeng seng mau bicara deng laeng’, dan sebagainya.
Ringkasnya ialah, siapa melanggar aturan atau pedoman hidup yang baik, hidupnya diburu masalah. Selain hidup dalam suasana relasi yang kurang akur/kurang mesra, tetapi juga diliputi rasa cemas, takut, dan bisa saja membuat kita kehilangan konsentrasi untuk melakukan suatu aktifitas.
Sebab itu,penting kita memahami sebuah aturan hidup, atau aturan dalam bekerja/di tempat kerja, supaya kita dapat melakukan peran kita secara maksimal, dan relasi kita dengan setiap orang dalam hidup dan di tempat kerja kita itu berlangsung secara harmonis, rukun, saling mendukung.
Teks kita hari ini mengajar kita untuk memahami bahwa inti dari hidup sebagai hamba TUHAN adalah yakin bahwa, status sebagai suami, isteri, kakak, adik; pekerjaan semisal PNS, bertani, nelayan, pedagang papalele, pendayung perahu, tukang ojek, tukang bangunan, penjaga kantor dan sekolah, peternak, adalah panggilan yang kudus. Dan bahwa dalam setiap status dan pekerjaan itu, ada aturan-aturan hidup dan kerja yang tidak boleh dilanggar seenak hati kita.
Sebaliknya atas status dan kerja itu, setiap aturan di dalamnya wajib dituruti, supaya kita dapat melakukannya dengan hati dan pikiran yang tenang, tanpa diburu rasa takut, cemas dan sejumlah rasa bersalah. Melainkan melakukannya dengan jujur, sungguh-sungguh, setia demi kebahagiaan semua orang. Di situlah seorang hamba akan semakin berkualitas.

Salam dengan Cium Kudus

 [2 Korintus 13:11-13]
K
embali ke pokok memberi salam, seperti yang sudah kita refleksikan di hari kemarin. Hari ini, ada satu hal lagi dari cara memberi salam, yaitu memberi salam dengan cium kudus. Kiranya ini tidak dipahami seperti kebiasaan banyak orang yang setiap bertemu lalu memberi cium pipi kiri, pipi kanan [cipiki cipika]. Sebab ada esensi penting lain dari ‘cium kudus’ ini.
Setiap masyarakat memiliki kebiasaan dalam tatkala berjumpa. Ada yang berpelukan; ada yang sebatas bertegur sapa; ada yang berjabat tangan; menepuk pundak; ada yang memberi ciuman di pipi, bibir, hidung, dahi; atau cium tangan.
Salam dengan ‘cium yang kudus’ dalam kebiasaan masyarakat Yahudi seperti dalam teks ini, diberikan kepada mereka yang sudah sangat dekat satu sama lain. Tidak ada unsur eros/birahi dalam praktek ini. Ini dilakukan oleh seorang yang telah menjadi pemimpin/pelayan kepada Jemaatnya yang sudah lama tidak jumpa.
Di hati mereka sudah seperti saudara sendiri, walau mereka tidak memiliki hubungan darah. Dan yang mengikat mereka menjadi seperti saudara itu adalah iman atau kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada TUHAN. Mereka terikat oleh komitmen iman untuk hanya percaya kepada TUHAN dan menuruti ajaran-ajarannya tanpa kecuali. Iman itu pula membuat mereka berkomitmen memelihara persekutuan iman di antara mereka.
Rasul Paulus menegaskan hal ini, kepada orang-orang Kristen di Korintus, yang telah berkomitmen percaya hanya kepada Yesus dan memelihara persekutuan gereja yang telah terbangun di antara mereka. Di antara jemaat itu ada kesehatian satu sama lain [ay.11 – sehati sepikir]. Hal sehati sepikir itulah yang membuat mengapa salam kepada mereka ditujukan, karena mereka kedapatan memiliki kualitas dalam memelihara hidup bergereja.

Percaya Kepada Allah Saja

[Yeremia 22:8-9]
M
inggu Adventus I akan kita akhiri di hari ini. Artinya, renungan kita tentang hidup dan keadilan, kiranya memperkokoh semangat kita untuk memulihkan persekutuan rumah tangga, jemaat dan masyarakat. Adventus I ini berpuncak pada sebuah janji iman bahwa: ‘kita tidak mau terus terpuruk dalam kesalahan dan kealpaan, sekedar menjadi orang baik karena Natal; sekedar berubah karena musim Natal.
Teks kita jika dibaca dalam bentuk yang positif, mengandung pesan bahwa, untuk memperoleh kasih karunia TUHAN yang melimpah, kita harus benar-benar hanya percaya kepada TUHAN dan beribadah pula hanya kepadaNya.
Manusia tidak punya pilihan lain selain beriman kepada TUHAN dan beribadah kepadaNya. Sebab itu, Adventus Natal mengajak kita untuk merenungi bahwa, Natal secara ritual merupakan suatu peristiwa berulang sepanjang tahun. Namun pengulangannya menegaskan bahwa, iman kepada Yesus Kristus adalah sebuah penegasan jati diri keagamaan yang harus semakin transformatif.
Sebab Yesus bukan lagi seorang bayi.  Yesus telah ada di dalam ruang penghayatan kita. AjaranNya sudah harus menjadi kekuatan dalam kita berkarya. Ia telah menjadi bagian dari sekian banyak upaya memulihkan persekutuan rumah tangga. Ia selalu menjadi jawaban atas berbagai hal yang kita doakan. Ia selalu menjadi sandaran tatkala kita mengalami berbagai masalah. Ia selalu menjadi tumpuan untuk melangkah selepas sebuah pengalaman pahit yang kita alami. Dan ia tetap menjadi TUHAN yang hidup dan berkarya di antara kita.
Adventus I Natal ini kiranya semakin mempersiapkan kita untuk dengan iman itu, kita terus bergumul dan mempersiapkan diri untuk tugas-tugas besar yang harus kita jalankan. Sebab Natal adalah masa di mana kita merealisasi agenda damai sejahtera Allah.

Lakukanlah Keadilan

[Yeremia 22:1-3]
S
uatu pagi, seorang anak bangun dari tidurnya. Ia mendapat pesan di secarik kertas yang bertuliskan: ‘sarapan ada di meja. Uang jajan di tempat biasa. Kunci pintu nanti ditaruh di bawah keset kaki.” Rupanya hal itu sudah rutin ia dapati setiap pagi, karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya.
Suatu hari, ketika orang tuanya pulang dari kerja. Anak mereka tidak ada di rumah. Pesan serupa terus ditinggalkan. Dan selama seminggu, hal itu terus terjadi. Sang anak tidak di rumah, tetapi orang tua tetap menuliskan pesan tersebut kepada anak mereka.
Tiba-tiba, mereka mendapat telepon yang mengatakan bahwa anak mereka sedang di rumah tahanan kepolisian karena ditangkap mengadakan pesta narkotika. Kedua suami isteri itu bergegas menuju kantor polisi. Setiba di sana, mereka hanya bisa saling menatap. Dan si anak itu berkata: ‘papa dan mama sudah membaca pesan saya di atas meja?’
Ternyata sebelum anak itu meninggalkan rumah seminggu lalu, ia menulis pesan di secarik kertas dan diletakkan di meja kerja kedua orang tuanya. Pesannya berisi: ‘sarapan tidak saya makan. Uang jajan tidak saya  ambil. Kunci tidak saya pindahkan. Tetapi saya akan ada di rumah teman dan akan pindah ke rumah tahanan polisi. Jangan jenguk saya. Sebab saya tahu saya salah’.
Cerita itu mau menegaskan bahwa, setiap saat kita mendapat peluang untuk melakukan keadilan kepada anak atau sesama. Peluang itu tidak boleh disia-siakan. Sebab itu, jangan salah memperlakukan anak atau orang tua, atau sesama kita. Perlakukanlah semua orang sesuai dengan harga diri dan martabatnya. Dan bertanggungjawablah atas apa yang menjadi panggilan hidup dan tugas kita. Dengan demikian, kita meninggalkan pesan-pesan hidup yang menguatkan satu sama lain setiap hari.

Hidup Tenteram, Itu Obat

[Yeremia 23:5-6]
N
atal selalu juga dinamai ‘hari penuh damai’. Natal seakan menghipnotis semua orang, sehingga tanpa disuruh, semuanya ingin hidup tenang, penuh sukacita, tidak bertengkar, dan sebagainya. Semua perilaku etik dibenahi, agar menjalani natal ‘deng sagala bae’.
Memang suasana hidup seakan berubah cepat di masa-masa menjelang dan selama Natal. Itu menandakan bahwa manusia selalu ingin menjadi baik atau berubah ke arah yang baik. Masa Natal pun selalu menjadi waktu yang tepat untuk ‘biking bae’ relasi antarmanusia. Dahulu, waktu ‘kawin lari’ masih sering terjadi, waktu baik untuk ‘minta ampong’ adalah masa Natal. Ringkasnya, semua rasa marah sirna pada saat Natal.
Hidup senang, tenteram itu ternyata tidak sulit diciptakan. Caranya pun mudah. Yaitu kita harus saling bertemu dan berkomunikasi. Dengan saling bertemu, kita mengeratkan kebersamaan dan merawat persekutuan. Sebab itu, pertemuan yang berkualitas adalah pertemuan yang selalu diciptakan melalui kesediaan untuk terus berjumpa satu sama lain.
Dengan saling berkomunikasi, kita mempersempit ruang kesalahpahaman dan mengatasi rasa penolakan satu sama lain. Komunikasi bukan saja proses pertukaran pesan, melainkan juga upaya untuk saling mengoreksi dan membenahi seorang terhadap lainnya. Upaya untuk saling memahami kebutuhan dan juga menyepakati tugas-tugas bersama.
Teks kita menegaskan bahwa, seorang pemimpin yang baik, yang diutus TUHAN ke dalam persekutuan umat [keluarga, jemaat, masyarakat] akan adalah yang mau terus bertemu dan berkomunikasi dengan anggota keluarga, jemaat atau masyarakatnya. Di situlah ia telah menciptakan suasana hidup yang tenteram sehingga persekutuan di antara mereka terawat baik. Natal adalah masa meningkatkan kualitas pertemuan dan komunikasi antarmanusia.

Oh Gembalaku…..

[Yeremia 23:1-4]
Y
esus memberi ilustrasi yang menarik tentang seorang gembala yang baik. Dari sekian banyak citra dirinya, ada satu yang menarik yaitu, gembala itu mengenal domba-domba, dan memanggil domba-dombanya sesuai dengan namanya, serta domba-domba itu mengenal suara gembalanya [baca. Yoh. 10:3-4]. Jadi tidak mungkin terjadi ‘salah panggel” atau ‘salah kanal’, dan domba juga tidak mungkin ‘datang salah orang’ atau ‘datang pada gembala yang salah.
Dalam Teks kita ini. TUHAN mengambil prakarsa baru untuk menyelamatkan umatNya dengan jalan mengangkat gembala yang baik di tengah mereka. Prakarsa TUHAN ini terjadi karena umatNya telah hilang arah. Mereka tidak mendapatkan pemimpin yang baik. Sebab itu, mereka [yang telah terserak], tidak bisa disatukan. Persekutuan di antara mereka rapuh, karena tidak ada sosok teladan yang dapat mempersatukan mereka kembali.
Dalam realitas seperti itu, TUHAN kembali berprakarsa untuk mengagkat gembala yang baik, agar umatNya tidak tercerai lagi [ay.4]. Tujuan dari prakarsa TUHAN itu ialah untuk menghimpunkan kembali, dan untuk meningkatkan persekutuan di antara umatNya.
Ada proses pemulihan yang TUHAN hendak kerjakan, namun dengan menetapkan gembala yang baik. Dengan demikian kita diajak untuk tetap menjadi pemimpin yang dapat diteladani. Mulai dari dalam rumah tangga, setiap suami/papa harus mempersatukan rumah tangganya. Dalam Jemaat, setiap pelayan [gembala] harus mengutuhkan ikatan hidup jemaat dan meningkatkan rasa memiliki kepada Gereja dan panggilan kudus. Dalam masyarakat, para pemimpin harus menjadi gembala yang baik, supaya persatuan dalam masyarakat terbina sebagai kekuatan untuk terus maju dan bertumbuh.

Janji Yang Ditepati


[Yeremia 33:14-16]
S
ebuah syair yang indah berbunyi begini: ‘Janji yang manis, Kau tak dilupakan….”. Syair itu adalah tembang rohani yang abadi, sebagai lukisan maha sempurna tentang betapa TUHAN itu adil memperlakukan umatNya. Jika kita merefleksikan hubungan kita dengan TUHAN, maka kita akan menemukan satu rahasia kecil, yaitu hubungan indah ini terjadi karena TUHAN yang berinisiatif mengadakannya.
TUHAN tidak main-main, ketika mengambil inisiatif untuk berhubungan dengan manusia. Bukti bahwa IA tidak main-main adalah IA membuat perjanjian luhur dengan manusia. Dan isi perjanjian luhur itu adalah bahwa IA akan menyelamatkan umatNya, dan IA akan tetap setia pada janji itu.
Bahkan ketika manusia melanggar ikatan janji itu, atau ketika manusia melakukan banyak perkara dosa sekali pun, IA tetap setia, sebab IA tidak bisa menyangkali diriNya sendiri. Yaitu IA adalah TUHAN.
Teks kita menegaskan bahwa, oleh karena TUHAN itu setia, maka IA akan ‘melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri’ [ay.15]. Kalimat ini sederhana namun mengandung pesan yang sangat kuat. TUHAN melaksanakan keadilan dan kebenaran. Artinya IA bertindak. Di tengah berbagai praktek ketidakadilan, akibat penyelewengan hukum dan ketidaktaatan manusia, TUHAN dikabarkan ‘melaksanakan keadilan dan kebenaran’. IA bukan hanya tidak tinggal diam, melainkan IA bertindak langsung untuk menunjukkan dan menjaminkan keadilan dan kebenaran di negeri.
Sebab itu, manusia harus beriman, bahwa segala perjuangan demi kebenaran dan keadilan, diperjuangkan bersama-sama dengan TUHAN, yang kita akui sebagai ‘TUHAN keadilan kita’ [ay.16]. Jadi, percayalah bahwa IA menepati segala yang dijanjikanNya. Natal adalah wujud TUHAN menepati janjiNya.