[Yeremia 22:1-3]
|
S
|
uatu
pagi, seorang anak bangun dari tidurnya. Ia mendapat pesan di secarik kertas
yang bertuliskan: ‘sarapan ada di meja. Uang jajan di tempat biasa. Kunci pintu
nanti ditaruh di bawah keset kaki.” Rupanya hal itu sudah rutin ia dapati
setiap pagi, karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya.
Suatu hari, ketika orang tuanya
pulang dari kerja. Anak mereka tidak ada di rumah. Pesan serupa terus
ditinggalkan. Dan selama seminggu, hal itu terus terjadi. Sang anak tidak di
rumah, tetapi orang tua tetap menuliskan pesan tersebut kepada anak mereka.
Tiba-tiba, mereka mendapat telepon
yang mengatakan bahwa anak mereka sedang di rumah tahanan kepolisian karena
ditangkap mengadakan pesta narkotika. Kedua suami isteri itu bergegas menuju
kantor polisi. Setiba di sana, mereka hanya bisa saling menatap. Dan si anak
itu berkata: ‘papa dan mama sudah membaca pesan saya di atas meja?’
Ternyata sebelum anak itu
meninggalkan rumah seminggu lalu, ia menulis pesan di secarik kertas dan
diletakkan di meja kerja kedua orang tuanya. Pesannya berisi: ‘sarapan tidak
saya makan. Uang jajan tidak saya ambil.
Kunci tidak saya pindahkan. Tetapi saya akan ada di rumah teman dan akan pindah
ke rumah tahanan polisi. Jangan jenguk saya. Sebab saya tahu saya salah’.
Cerita itu mau menegaskan bahwa,
setiap saat kita mendapat peluang untuk melakukan keadilan kepada anak atau
sesama. Peluang itu tidak boleh disia-siakan. Sebab itu, jangan salah
memperlakukan anak atau orang tua, atau sesama kita. Perlakukanlah semua orang
sesuai dengan harga diri dan martabatnya. Dan bertanggungjawablah atas apa yang
menjadi panggilan hidup dan tugas kita. Dengan demikian, kita meninggalkan
pesan-pesan hidup yang menguatkan satu sama lain setiap hari.