[Lukas
12:47-48]
|
A
|
da banyak aturan dalam hidup berkeluarga yang telah
disepakati dan mesti dijadikan bagian dari pedoman kehidupan. Aturan-aturan itu
tidak boleh dilanggari secara sengaja maupun tidak. Sebab, bisa menimbulkan
keretakan, misalnya antarsuami-isteri. Atau pula menyebabkan ketidaktertiban
hidup, misalnya antaradik-kakak. Setiap kita melanggar aturan-aturan itu, pasti
ada masalah, seperti ‘baku marah, laeng seng mau bicara deng laeng’, dan
sebagainya.
Ringkasnya ialah, siapa melanggar
aturan atau pedoman hidup yang baik, hidupnya diburu masalah. Selain hidup
dalam suasana relasi yang kurang akur/kurang mesra, tetapi juga diliputi rasa
cemas, takut, dan bisa saja membuat kita kehilangan konsentrasi untuk melakukan
suatu aktifitas.
Sebab itu,penting kita memahami
sebuah aturan hidup, atau aturan dalam bekerja/di tempat kerja, supaya kita
dapat melakukan peran kita secara maksimal, dan relasi kita dengan setiap orang
dalam hidup dan di tempat kerja kita itu berlangsung secara harmonis, rukun,
saling mendukung.
Teks kita hari ini mengajar kita
untuk memahami bahwa inti dari hidup sebagai hamba TUHAN adalah yakin bahwa,
status sebagai suami, isteri, kakak, adik; pekerjaan semisal PNS, bertani,
nelayan, pedagang papalele, pendayung perahu, tukang ojek, tukang bangunan,
penjaga kantor dan sekolah, peternak, adalah panggilan yang kudus. Dan bahwa
dalam setiap status dan pekerjaan itu, ada aturan-aturan hidup dan kerja yang
tidak boleh dilanggar seenak hati kita.
Sebaliknya atas status dan kerja
itu, setiap aturan di dalamnya wajib dituruti, supaya kita dapat melakukannya
dengan hati dan pikiran yang tenang, tanpa diburu rasa takut, cemas dan
sejumlah rasa bersalah. Melainkan melakukannya dengan jujur, sungguh-sungguh,
setia demi kebahagiaan semua orang. Di situlah seorang hamba akan semakin
berkualitas.