[1 Tesalonika 5:1-11]
|
H
|
ari TUHAN secara umum dipahami sebagai masa kedatangan
Yesus yang kedua kali, atau masa penghakiman.
Konsep ini menjadi populer sejak zaman Perjanjian Lama, sampai di zaman
Yesus, oleh karena adanya pemahaman tentang surga dan neraka. Di mana surga
adalah tempat bagi mereka yang berkelakuan baik, dan neraka bagi yang
berkelauan jahat.
Di dalam Perjanjian Baru, konsep
hari TUHAN itu lebih ditekankan pada bagaimana kualitas perilaku hidup kita
dijaga; sebab hari TUHAN telah dipahami sebagai hari pengakiman. Antara orang
baik dan orang jahat akan sama-sama dihakimi dan hakim akan menjatuhkan
keputusan yang adil/setimpal.
Rasul Paulus sesungguhnya tidak
terlampau memikirkan kapan waktu yang tepat hari TUHAN itu tiba. Ia menyebut,
hari TUHAN tiba seperti pencuri di malam hari. Tidak diduga, tidak disangka,
dalam keadaan siap atau tidak, bisa saja terjadi.
Karena itu, yang penting adalah
bagaimana memelihara perilaku hidup. Meningkatkan kualitas moral, etik dan
spiritual. Sebab itu dengan menyebut kita sebagai anak-anak siang, rasul Paulus
menegaskan agar kita selalu hidup dalam kesadaran –tidak melakukan hal-hal di
luar kontrol diri; beriman dan berpengharapan. Anak-anak siang itu selalu
berjaga-jaga. Hal berjaga-jaga di sini bukan berarti kita tidak boleh tidur,
karena kalau ketiduran maka kita tidak tahu kedatangan TUHAN.
Berjaga-jaga di sini lebih pada
daya tahan untuk menghindari godaan ‘anak-anak gelap’, yang suka mabuk
sepanjang waktu; dan hidupnya tidak tertib karena tidak menuruti perintah
TUHAN. Berjaga-jaga berarti selalu sadar akan apa yang kita lakukan, lalu terus
berusaha memperbaiki sikap hidup sepanjang waktu. Bukan pula tunggu mau Natal
baru membenahi perilaku. Sepanjang waktu, selama kita masih sadar bahwa kita
dikasihi TUHAN.