Sabtu, 21 Desember 2013

Anak-anak Siang

 [1 Tesalonika 5:1-11]
H
ari TUHAN secara umum dipahami sebagai masa kedatangan Yesus yang kedua kali, atau masa penghakiman.  Konsep ini menjadi populer sejak zaman Perjanjian Lama, sampai di zaman Yesus, oleh karena adanya pemahaman tentang surga dan neraka. Di mana surga adalah tempat bagi mereka yang berkelakuan baik, dan neraka bagi yang berkelauan jahat.
Di dalam Perjanjian Baru, konsep hari TUHAN itu lebih ditekankan pada bagaimana kualitas perilaku hidup kita dijaga; sebab hari TUHAN telah dipahami sebagai hari pengakiman. Antara orang baik dan orang jahat akan sama-sama dihakimi dan hakim akan menjatuhkan keputusan yang adil/setimpal.
Rasul Paulus sesungguhnya tidak terlampau memikirkan kapan waktu yang tepat hari TUHAN itu tiba. Ia menyebut, hari TUHAN tiba seperti pencuri di malam hari. Tidak diduga, tidak disangka, dalam keadaan siap atau tidak, bisa saja terjadi.
Karena itu, yang penting adalah bagaimana memelihara perilaku hidup. Meningkatkan kualitas moral, etik dan spiritual. Sebab itu dengan menyebut kita sebagai anak-anak siang, rasul Paulus menegaskan agar kita selalu hidup dalam kesadaran –tidak melakukan hal-hal di luar kontrol diri; beriman dan berpengharapan. Anak-anak siang itu selalu berjaga-jaga. Hal berjaga-jaga di sini bukan berarti kita tidak boleh tidur, karena kalau ketiduran maka kita tidak tahu kedatangan TUHAN.
Berjaga-jaga di sini lebih pada daya tahan untuk menghindari godaan ‘anak-anak gelap’, yang suka mabuk sepanjang waktu; dan hidupnya tidak tertib karena tidak menuruti perintah TUHAN. Berjaga-jaga berarti selalu sadar akan apa yang kita lakukan, lalu terus berusaha memperbaiki sikap hidup sepanjang waktu. Bukan pula tunggu mau Natal baru membenahi perilaku. Sepanjang waktu, selama kita masih sadar bahwa kita dikasihi TUHAN.