[Yeremia 22:8-9]
|
M
|
inggu
Adventus I akan kita akhiri di hari ini. Artinya, renungan kita tentang hidup
dan keadilan, kiranya memperkokoh semangat kita untuk memulihkan persekutuan
rumah tangga, jemaat dan masyarakat. Adventus I ini berpuncak pada sebuah janji
iman bahwa: ‘kita tidak mau terus terpuruk dalam kesalahan dan kealpaan, sekedar
menjadi orang baik karena Natal; sekedar berubah karena musim Natal.
Teks kita jika dibaca dalam bentuk yang
positif, mengandung pesan bahwa, untuk memperoleh kasih karunia TUHAN yang
melimpah, kita harus benar-benar hanya percaya kepada TUHAN dan beribadah pula
hanya kepadaNya.
Manusia tidak punya pilihan lain
selain beriman kepada TUHAN dan beribadah kepadaNya. Sebab itu, Adventus Natal
mengajak kita untuk merenungi bahwa, Natal secara ritual merupakan suatu
peristiwa berulang sepanjang tahun. Namun pengulangannya menegaskan bahwa, iman
kepada Yesus Kristus adalah sebuah penegasan jati diri keagamaan yang harus
semakin transformatif.
Sebab Yesus bukan lagi seorang
bayi. Yesus telah ada di dalam ruang
penghayatan kita. AjaranNya sudah harus menjadi kekuatan dalam kita berkarya.
Ia telah menjadi bagian dari sekian banyak upaya memulihkan persekutuan rumah
tangga. Ia selalu menjadi jawaban atas berbagai hal yang kita doakan. Ia selalu
menjadi sandaran tatkala kita mengalami berbagai masalah. Ia selalu menjadi
tumpuan untuk melangkah selepas sebuah pengalaman pahit yang kita alami. Dan ia
tetap menjadi TUHAN yang hidup dan berkarya di antara kita.
Adventus I Natal ini kiranya
semakin mempersiapkan kita untuk dengan iman itu, kita terus bergumul dan
mempersiapkan diri untuk tugas-tugas besar yang harus kita jalankan. Sebab
Natal adalah masa di mana kita merealisasi agenda damai sejahtera Allah.