Sabtu, 21 Desember 2013

Waspadalah

 [Lukas 12:35-39]
K
ita mengulang lagi renungan kita di hari Minggu, 08 Desember 2013. Kali ini kita lebih fokus melihat etika hidup seorang hamba, yang dalam teks ini, disebut Yesus sebagai yang siap sedia/waspada menanti kedatangan tuannya.
Jika dalam surat Paulus ditekankan aspek moral-etik sebagai jaminan keselamatan di hari TUHAN, maka dalam Injil Lukas ini, Yesus lebih menyoroti pada kesiapan seorang hamba. Memosisikan diri kita sebagai hamba, maka hal yang menarik dari relasi kita dengan TUHAN adalah bagaimana kita siap sedia untuk terus bekerja/melayani.
Jadi bukan soal kapan hari TUHAN itu datang. Soalnya lebih pada kesiap sediaan kita untuk terus melayani kapan pun dan dalam keadaan bagaimana pun. Sebab dengan kesiapan itu, maka kualitas pelayanan kita terus meningkat.
Lihatlah betapa Yesus melukiskan hal itu begitu indahnya. Yakni bahwa, jika hamba itu selalu waspada/siap sedia, maka di tengah malam sekalipun, tatkala tuannya datang, ia langsung membuka pintu, mengikat pinggangnya, mempersilahkan tuannya duduk makan, dan melayani mereka [ay.37]. Yesus menyebut sikap ini dengan ungkapan ‘berbahagialah’.
Jadi di hidup ini, yang utama adalah bagaimana kita tetap siap sedia melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada kita. Sebab kesiap-sediaan kita itu menjadi bukti bahwa kita bukanlah orang suruhan yang bekerja/melayani hanya demi popularitas, uang dan kepuasan duniawi. Kita melayani karena kita sadar siapa kita sesungguhnya, yaitu hamba bagi TUHAN.
Sebab itu, di ayat 35 Yesus mengatakan ‘hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala’. Suatu ungkapan yang menegaskan agar kita tetap menjadi hamba yang mampu bekerja dan bersaksi di segala waktu dan pada segala situasi.[