[Lukas 12:35-39]
|
K
|
ita mengulang lagi renungan kita di hari Minggu, 08 Desember
2013. Kali ini kita lebih fokus melihat etika hidup seorang hamba, yang dalam
teks ini, disebut Yesus sebagai yang siap sedia/waspada menanti kedatangan
tuannya.
Jika dalam surat Paulus ditekankan
aspek moral-etik sebagai jaminan keselamatan di hari TUHAN, maka dalam Injil
Lukas ini, Yesus lebih menyoroti pada kesiapan seorang hamba. Memosisikan diri
kita sebagai hamba, maka hal yang menarik dari relasi kita dengan TUHAN adalah
bagaimana kita siap sedia untuk terus bekerja/melayani.
Jadi bukan soal kapan hari TUHAN
itu datang. Soalnya lebih pada kesiap sediaan kita untuk terus melayani kapan
pun dan dalam keadaan bagaimana pun. Sebab dengan kesiapan itu, maka kualitas
pelayanan kita terus meningkat.
Lihatlah betapa Yesus melukiskan
hal itu begitu indahnya. Yakni bahwa, jika hamba itu selalu waspada/siap sedia,
maka di tengah malam sekalipun, tatkala tuannya datang, ia langsung membuka
pintu, mengikat pinggangnya, mempersilahkan tuannya duduk makan, dan melayani
mereka [ay.37]. Yesus menyebut sikap ini dengan ungkapan ‘berbahagialah’.
Jadi di hidup ini, yang utama
adalah bagaimana kita tetap siap sedia melaksanakan tugas yang dipercayakan
kepada kita. Sebab kesiap-sediaan kita itu menjadi bukti bahwa kita bukanlah
orang suruhan yang bekerja/melayani hanya demi popularitas, uang dan kepuasan
duniawi. Kita melayani karena kita sadar siapa kita sesungguhnya, yaitu hamba
bagi TUHAN.
Sebab itu, di ayat 35 Yesus
mengatakan ‘hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala’.
Suatu ungkapan yang menegaskan agar kita tetap menjadi hamba yang mampu bekerja
dan bersaksi di segala waktu dan pada segala situasi.[