[2 Tesalonika 3:16-18]
|
S
|
etiap kita selalu memberi salam seorang akan yang
lain. Kata-kata salam itu ada banyak. Salam yang menunjuk dimensi waktui,
seperti Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Malam. Yang menunjuk
dimensi kehidupan seperti Selamat Ulang Tahun, Selamat Panjang Umur. Tetapi
juga yang menunjuk dimensi kehidupan yang bermutu, seperti Salam Damai
Sejahtera, atau Shalom, atau dalam
teks ini, Eirene.
Pada pekan Adventus II ini, kita
diajak melalui teks ini untuk memahami bahwa esensi dari ‘salam damai sejahtera’
[eirene] ialah perjumpaan dalam
segala situasi hidup dengan sesama. Benar, bahwa kita biasanya menitipkan salam
kepada seorang saudara kita. Tetapi mari kita simak, bahwa hal ‘titip salam’
itu terjadi karena kita telah terlebih dahulu berjumpa dengan seseorang yang
menjadi bagian hidup orang lain, yang kepada mereka salam kita titipkan.
Jadi perjumpaan itu esensi dari hal
memberi salam. Sebab memberi salam itu sama arti dengan kita bersyukur, bahwa
TUHAN masih memelihara kita dan juga saudara kita. Dan bukti TUHAN memelihara
itu kita lihat langsung, sebab kita berjumpa secara langsung. Kemudian sebelum
berpisah, kita memberi salam, juga sebagai doa bahwa TUHAN akan tetap
memelihara saudara kita itu. Malah ketika kita menitipkan salam kepada anggota keluarganya,
maka kita pun mendoakan bahwa TUHAN yang memelihara saudara kita itu juga
memelihara anggota keluarganya yang lain.
Jadi, di hidup ini, kita tidak
boleh menghindari dua hal. Pertama, jangan menghindar untuk berjumpa dengan
sesama atau saudara kita. Sebab perjumpaan itu dikehendaki oleh TUHAN. Kedua,
setiap perjumpaan, jangan lupa memberi salam, sebab salam itu adalah doa
keselamatan. Dan menjelang pisah, jangan lupa memberi salam kepada saudara yang
lain; sebab semakin rajin kita memberi salam, semakin rajin kita berdoa kepada
saudara-saudara kita.