[Yeremia 23:1-4]
|
Y
|
esus
memberi ilustrasi yang menarik tentang seorang gembala yang baik. Dari sekian
banyak citra dirinya, ada satu yang menarik yaitu, gembala itu mengenal
domba-domba, dan memanggil domba-dombanya sesuai dengan namanya, serta
domba-domba itu mengenal suara gembalanya [baca. Yoh. 10:3-4]. Jadi tidak
mungkin terjadi ‘salah panggel” atau ‘salah kanal’, dan domba juga tidak
mungkin ‘datang salah orang’ atau ‘datang pada gembala yang salah.
Dalam
Teks kita ini. TUHAN mengambil prakarsa baru untuk menyelamatkan umatNya dengan
jalan mengangkat gembala yang baik di tengah mereka. Prakarsa TUHAN ini terjadi
karena umatNya telah hilang arah. Mereka tidak mendapatkan pemimpin yang baik. Sebab
itu, mereka [yang telah terserak], tidak bisa disatukan. Persekutuan di antara
mereka rapuh, karena tidak ada sosok teladan yang dapat mempersatukan mereka
kembali.
Dalam
realitas seperti itu, TUHAN kembali berprakarsa untuk mengagkat gembala yang baik,
agar umatNya tidak tercerai lagi [ay.4]. Tujuan dari prakarsa TUHAN itu ialah
untuk menghimpunkan kembali, dan untuk meningkatkan persekutuan di antara
umatNya.
Ada
proses pemulihan yang TUHAN hendak kerjakan, namun dengan menetapkan gembala
yang baik. Dengan demikian kita diajak untuk tetap menjadi pemimpin yang dapat
diteladani. Mulai dari dalam rumah tangga, setiap suami/papa harus
mempersatukan rumah tangganya. Dalam Jemaat, setiap pelayan [gembala] harus
mengutuhkan ikatan hidup jemaat dan meningkatkan rasa memiliki kepada Gereja
dan panggilan kudus. Dalam masyarakat, para pemimpin harus menjadi gembala yang
baik, supaya persatuan dalam masyarakat terbina sebagai kekuatan untuk terus
maju dan bertumbuh.