[Yeremia 23:5-6]
|
N
|
atal
selalu juga dinamai ‘hari penuh damai’. Natal seakan menghipnotis semua orang,
sehingga tanpa disuruh, semuanya ingin hidup tenang, penuh sukacita, tidak
bertengkar, dan sebagainya. Semua perilaku etik dibenahi, agar menjalani natal
‘deng sagala bae’.
Memang suasana hidup seakan berubah
cepat di masa-masa menjelang dan selama Natal. Itu menandakan bahwa manusia
selalu ingin menjadi baik atau berubah ke arah yang baik. Masa Natal pun selalu
menjadi waktu yang tepat untuk ‘biking bae’ relasi antarmanusia. Dahulu, waktu
‘kawin lari’ masih sering terjadi, waktu baik untuk ‘minta ampong’ adalah masa
Natal. Ringkasnya, semua rasa marah sirna pada saat Natal.
Hidup senang, tenteram itu ternyata
tidak sulit diciptakan. Caranya pun mudah. Yaitu kita harus saling bertemu dan
berkomunikasi. Dengan saling bertemu, kita mengeratkan kebersamaan dan merawat
persekutuan. Sebab itu, pertemuan yang berkualitas adalah pertemuan yang selalu
diciptakan melalui kesediaan untuk terus berjumpa satu sama lain.
Dengan saling berkomunikasi, kita
mempersempit ruang kesalahpahaman dan mengatasi rasa penolakan satu sama lain.
Komunikasi bukan saja proses pertukaran pesan, melainkan juga upaya untuk
saling mengoreksi dan membenahi seorang terhadap lainnya. Upaya untuk saling
memahami kebutuhan dan juga menyepakati tugas-tugas bersama.
Teks kita menegaskan bahwa, seorang
pemimpin yang baik, yang diutus TUHAN ke dalam persekutuan umat [keluarga,
jemaat, masyarakat] akan adalah yang mau terus bertemu dan berkomunikasi dengan
anggota keluarga, jemaat atau masyarakatnya. Di situlah ia telah menciptakan
suasana hidup yang tenteram sehingga persekutuan di antara mereka terawat baik.
Natal adalah masa meningkatkan kualitas pertemuan dan komunikasi antarmanusia.