Jumat, 20 Desember 2013

Salam dengan Cium Kudus

 [2 Korintus 13:11-13]
K
embali ke pokok memberi salam, seperti yang sudah kita refleksikan di hari kemarin. Hari ini, ada satu hal lagi dari cara memberi salam, yaitu memberi salam dengan cium kudus. Kiranya ini tidak dipahami seperti kebiasaan banyak orang yang setiap bertemu lalu memberi cium pipi kiri, pipi kanan [cipiki cipika]. Sebab ada esensi penting lain dari ‘cium kudus’ ini.
Setiap masyarakat memiliki kebiasaan dalam tatkala berjumpa. Ada yang berpelukan; ada yang sebatas bertegur sapa; ada yang berjabat tangan; menepuk pundak; ada yang memberi ciuman di pipi, bibir, hidung, dahi; atau cium tangan.
Salam dengan ‘cium yang kudus’ dalam kebiasaan masyarakat Yahudi seperti dalam teks ini, diberikan kepada mereka yang sudah sangat dekat satu sama lain. Tidak ada unsur eros/birahi dalam praktek ini. Ini dilakukan oleh seorang yang telah menjadi pemimpin/pelayan kepada Jemaatnya yang sudah lama tidak jumpa.
Di hati mereka sudah seperti saudara sendiri, walau mereka tidak memiliki hubungan darah. Dan yang mengikat mereka menjadi seperti saudara itu adalah iman atau kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada TUHAN. Mereka terikat oleh komitmen iman untuk hanya percaya kepada TUHAN dan menuruti ajaran-ajarannya tanpa kecuali. Iman itu pula membuat mereka berkomitmen memelihara persekutuan iman di antara mereka.
Rasul Paulus menegaskan hal ini, kepada orang-orang Kristen di Korintus, yang telah berkomitmen percaya hanya kepada Yesus dan memelihara persekutuan gereja yang telah terbangun di antara mereka. Di antara jemaat itu ada kesehatian satu sama lain [ay.11 – sehati sepikir]. Hal sehati sepikir itulah yang membuat mengapa salam kepada mereka ditujukan, karena mereka kedapatan memiliki kualitas dalam memelihara hidup bergereja.