[2 Korintus 13:11-13]
|
K
|
embali ke pokok memberi salam, seperti yang sudah kita
refleksikan di hari kemarin. Hari ini, ada satu hal lagi dari cara memberi
salam, yaitu memberi salam dengan cium kudus. Kiranya ini tidak dipahami
seperti kebiasaan banyak orang yang setiap bertemu lalu memberi cium pipi kiri,
pipi kanan [cipiki cipika]. Sebab ada esensi penting lain dari ‘cium kudus’
ini.
Setiap masyarakat memiliki
kebiasaan dalam tatkala berjumpa. Ada yang berpelukan; ada yang sebatas
bertegur sapa; ada yang berjabat tangan; menepuk pundak; ada yang memberi
ciuman di pipi, bibir, hidung, dahi; atau cium tangan.
Salam dengan ‘cium yang kudus’
dalam kebiasaan masyarakat Yahudi seperti dalam teks ini, diberikan kepada
mereka yang sudah sangat dekat satu sama lain. Tidak ada unsur eros/birahi
dalam praktek ini. Ini dilakukan oleh seorang yang telah menjadi pemimpin/pelayan
kepada Jemaatnya yang sudah lama tidak jumpa.
Di hati mereka sudah seperti
saudara sendiri, walau mereka tidak memiliki hubungan darah. Dan yang mengikat
mereka menjadi seperti saudara itu adalah iman atau kepercayaan yang
sungguh-sungguh kepada TUHAN. Mereka terikat oleh komitmen iman untuk hanya
percaya kepada TUHAN dan menuruti ajaran-ajarannya tanpa kecuali. Iman itu pula
membuat mereka berkomitmen memelihara persekutuan iman di antara mereka.
Rasul Paulus menegaskan hal ini,
kepada orang-orang Kristen di Korintus, yang telah berkomitmen percaya hanya
kepada Yesus dan memelihara persekutuan gereja yang telah terbangun di antara
mereka. Di antara jemaat itu ada kesehatian satu sama lain [ay.11 – sehati
sepikir]. Hal sehati sepikir itulah yang membuat mengapa salam kepada mereka
ditujukan, karena mereka kedapatan memiliki kualitas dalam memelihara hidup
bergereja.