Minggu, 22 Desember 2013

Hati-hati Terhadap Perpecahan

 [Lukas 12:49-53]
Y
esus datang untuk membawa damai, bukan perpecahan. Namun bagaimana jika teks hari ini justru mengatakan sebaliknya, bahwa IA datang untuk membawa perpecahan? Dapatkah itu kita terima dengan akal dan iman kita yang selama ini percaya bahwa IA adalah Jurudamai?
Teks ini menyaksikan hal yang lain dari pemahaman iman kita secara umum mengenai hakekat kedatangan Yesus. Baik, marilah kita berusaha memahami maksudnya, sambil berusaha lebih sungguh-sungguh lagi supaya kondisi yang disaksikan teks ini tidak terjadi dalam hidup kita.
Kata-kata Yesus dalam injil ini dialamatkan dalam situasi hidup umat yang sudah tidak lagi mengembangkan rasa peduli satu terhadap lainnya. Krisis kepedulian terparah justru terjadi di dalam keluarga atau antar keluarga. Ikatan-ikatan kekeluargaan dan persaudaraan sudah tidak dihormati lagi, karena manusia mengejar kepentingan pribadi, mencari untung bagi dirinya, dan sampai-sampai nekat untuk mencelakai atau tidak mempedulikan saudaranya sendiri.
Karena itu, sesungguhnya cerita ini mewakili suasana yang sama dalam Kitab Nabi-nabi. Yaitu ketika umat mengharapkan datangnya Hari Tuhan, atau kedatangan Mesias sebagai pembawa damai, justeru mereka kedapatan hidup individual dan tidak memiliki kepekaan atau kepedulian sosial kepada orang-orang miskin, yang adalah saudara atau keluarga mereka sendiri.
Karena itu Yesus sesungguhnya hendak mengkritik hal itu, sebab jika tidak diperhatikan, maka perpecahan dalam keluarga dapat saja terjadi.  Dengan kritik itu Yesus sesungguhnya hendak menganjurkan agar umat semakin peduli kepada sesama dan saudaranya. Sebab esensi kehadiran Yesus adalah memulihkan setiap relasi antarmanusia, antaranggota keluarga, dan meningkatkan pelayanan kasih yang lebih kepada semua [keadilan sosial].