Senin, 23 Desember 2013

Saat Tuhan Pulihkan Kita


[Mazmur 126:1-3]
E
mas, sampai membentuk sebuah cincin atau kalung, telah melewati proses yang panjang, dan salah satunya ialah dilebur dengan api hingga meleleh dan disiram pada wadah untuk membentuk aneka perhiasan. Seperti itu pula dengan bejana tanah liat. Malah ketika didapati retak, dihancurkan kembali untuk membuat lagi yang baru dan yang sempurna.
Namun, pemazmur memiliki gambaran yang unik. Menurutnya, saat TUHAN memulihkan umatNya, ada suatu kondisi hidup baru yang telah dan sedang dialami mereka. Artinya, mereka tidak kedapatan sedang hancur, melainkan kedapatan sedang dalam situasi hidup yang berkualitas.
Mari simak ayat-ayat dalam Mazmur ini. Saat pemulihan itu terjadi tidak disangka-sangka [ay.1 – seperti orang-orang yang bermimpi]. Artinya hari pemulihan itu bukan tujuan hidup mereka. Melainkan berbuat baik sebagai wujud takut TUHAN-lah yang menjadi tujuan. Dengan kata lain, mereka hidup bukan untuk akhir zaman, melainkan untuk melakukan yang baik. Buktinya, pada saat TUHAN memulihkan mereka, mereka kedapatan dalam sukacita satu sama lain [ay.2 penuh dengan tertawa dan sorak-sorai].
Jadi oleh sebab mereka penuh dengan sukacita, karena melakukan hal-hal yang baik, di saat itulah TUHAN melakukan hal-hal yang jauh di luar dugaan umat. Ungkapan lazim di masyarakat kita ialah ‘TUHAN biking Antua pung bageang’ atau ‘TUHAN ambel bageang’.
Kondisi itu merupakan suatu hal yang ideal dan diharapkan oleh TUHAN dari kita. Karena itu Adventus sebagai masa penantian bukanlah satu-satunya waktu untuk menjadi saleh atau beriman. Setiap hari dituntut dari kita kesalehan hidup. Sebab itu setiap hari harus diisi dengan perbuatan baik. Sebab setiap waktu pula TUHAN dapat melakukan pemulihan dalam bentuk apa pun atas kita. Intinya, kita harus selalu kedapatan sedang dalam sukacita karena melakukan hal-hal yang baik.