[Mazmur 126:1-3]
|
E
|
mas,
sampai membentuk sebuah cincin atau kalung, telah melewati proses yang panjang,
dan salah satunya ialah dilebur dengan api hingga meleleh dan disiram pada
wadah untuk membentuk aneka perhiasan. Seperti itu pula dengan bejana tanah
liat. Malah ketika didapati retak, dihancurkan kembali untuk membuat lagi yang
baru dan yang sempurna.
Namun, pemazmur memiliki gambaran
yang unik. Menurutnya, saat TUHAN memulihkan umatNya, ada suatu kondisi hidup
baru yang telah dan sedang dialami mereka. Artinya, mereka tidak kedapatan
sedang hancur, melainkan kedapatan sedang dalam situasi hidup yang berkualitas.
Mari simak ayat-ayat dalam Mazmur
ini. Saat pemulihan itu terjadi tidak disangka-sangka [ay.1 – seperti
orang-orang yang bermimpi]. Artinya hari pemulihan itu bukan tujuan hidup
mereka. Melainkan berbuat baik sebagai wujud takut TUHAN-lah yang menjadi
tujuan. Dengan kata lain, mereka hidup bukan untuk akhir zaman, melainkan untuk
melakukan yang baik. Buktinya, pada saat TUHAN memulihkan mereka, mereka
kedapatan dalam sukacita satu sama lain [ay.2 penuh dengan tertawa dan
sorak-sorai].
Jadi oleh sebab mereka penuh dengan
sukacita, karena melakukan hal-hal yang baik, di saat itulah TUHAN melakukan
hal-hal yang jauh di luar dugaan umat. Ungkapan lazim di masyarakat kita ialah
‘TUHAN biking Antua pung bageang’ atau ‘TUHAN ambel bageang’.
Kondisi itu merupakan suatu hal
yang ideal dan diharapkan oleh TUHAN dari kita. Karena itu Adventus sebagai
masa penantian bukanlah satu-satunya waktu untuk menjadi saleh atau beriman.
Setiap hari dituntut dari kita kesalehan hidup. Sebab itu setiap hari harus
diisi dengan perbuatan baik. Sebab setiap waktu pula TUHAN dapat melakukan
pemulihan dalam bentuk apa pun atas kita. Intinya, kita harus selalu kedapatan
sedang dalam sukacita karena melakukan hal-hal yang baik.