Minggu, 22 Desember 2013

Iman dan Kesejahteraan


[Mazmur 122:1-9]
J
ika kita mencoba memahami realitas peribadahan kita di GPM, maka suasana peribadahan itu, dan penempatan tempat duduk, sudah sangat memperhatikan kesetaraan antarumat; dan tidak ada tempat yang dikhususkan untuk golongan sosial tertentu, atau jenis kelamin tertentu.
Jika kita memperhatikan urut-urutan liturgis, saat tiba pada Persembahan Kudus, semua jemat memberi kolektanya, tanpa disyaratkan besar kecil jumlah menurut tingkat ekonomi jemaat yang dalam realitasnya, berbeda. Itu berarti, TUHAN menerima apapun yang kita persembahkan kepadaNya, tanpa mengecualikan atau mengutamakan satu daripada yang lain.
Dan praktek liturgi apa pun yang berlangsung dalam ibadah, semuanya berlangsung dalam kesetaraan satu sama lainnya. Dan itu satu aspek hidup dan iman yang kita jumpai tatkala kita beribadah sepanjang waktu. Dengan demikian pesan penting dari itu ialah setiap orang sama di hadapan TUHAN, walau ia memiliki status sosial yang berbeda. Di hadapan TUHAN semuanya lebur menjadi satu, karena itu orang yang datang beribadah disebut/disapa dengan sapaan yang sama ‘Jemaat yang dikasihi dalam TUHAN Yesus’.
Pertanda bahwa, oleh iman, setiap orang yang datang beribadah, datang dengan membawa berkat-berkat yang telah diperolehnya dari TUHAN, guna dipersembahkan kepadaNya, sebagai persembahan kudus, persepuluhan, pengucapan syukur. Ia tidak datang dengan kemiskinannya. Ia pun tidak datang dengan kekayaannya. Melainkan datang sambil membawa berkat yang diberi TUHAN guna dipersembahkan kepadaNya pula.
Itu artinya, iman yang tampak dalam ibadah jemaat adalah iman yang mensejahterakan. Karena itu, setiap orang yang diberkati, di mana pun ia berada, dari mana pun ia datang; maka tatkala ia datang dalam ibadah, ia datang sambil membawa berkat yang ia terima dari TUHAN.