[Mazmur 122:1-9]
|
J
|
ika
kita mencoba memahami realitas peribadahan kita di GPM, maka suasana
peribadahan itu, dan penempatan tempat duduk, sudah sangat memperhatikan
kesetaraan antarumat; dan tidak ada tempat yang dikhususkan untuk golongan
sosial tertentu, atau jenis kelamin tertentu.
Jika kita memperhatikan urut-urutan
liturgis, saat tiba pada Persembahan Kudus, semua jemat memberi kolektanya, tanpa disyaratkan besar
kecil jumlah menurut tingkat ekonomi jemaat yang dalam realitasnya, berbeda.
Itu berarti, TUHAN menerima apapun yang kita persembahkan kepadaNya, tanpa
mengecualikan atau mengutamakan satu daripada yang lain.
Dan praktek liturgi apa pun yang
berlangsung dalam ibadah, semuanya berlangsung dalam kesetaraan satu sama
lainnya. Dan itu satu aspek hidup dan iman yang kita jumpai tatkala kita
beribadah sepanjang waktu. Dengan demikian pesan penting dari itu ialah setiap
orang sama di hadapan TUHAN, walau ia memiliki status sosial yang berbeda. Di
hadapan TUHAN semuanya lebur menjadi satu, karena itu orang yang datang
beribadah disebut/disapa dengan sapaan yang sama ‘Jemaat yang dikasihi dalam
TUHAN Yesus’.
Pertanda bahwa, oleh iman, setiap
orang yang datang beribadah, datang dengan membawa berkat-berkat yang telah
diperolehnya dari TUHAN, guna dipersembahkan kepadaNya, sebagai persembahan
kudus, persepuluhan, pengucapan syukur. Ia tidak datang dengan kemiskinannya.
Ia pun tidak datang dengan kekayaannya. Melainkan datang sambil membawa berkat
yang diberi TUHAN guna dipersembahkan kepadaNya pula.
Itu artinya, iman yang tampak dalam
ibadah jemaat adalah iman yang mensejahterakan. Karena itu, setiap orang yang
diberkati, di mana pun ia berada, dari mana pun ia datang; maka tatkala ia
datang dalam ibadah, ia datang sambil membawa berkat yang ia terima dari TUHAN.