[Mazmur 19:8-15]
|
S
|
etiap
orang yang hidup, tentu mau mendapat berkat. Dalam Hukum Kitab Ulangan [Ul.28],
syaratnya simpel, yaitu jika umat melakukan segala yang difirmankan TUHAN, maka
ia memperoleh beragam berkat. Karena itu, berkat tidak bisa dipahami seperti
hadiah, door prize atau cendera mata.
Berkat itu memiliki makna tersendiri, yaitu pemberian cuma-cuma dari TUHAN
tanpa mempertimbangkan jasa manusia.
Dalam Mazmur yang kita baca hari
ini, berkat itu diberi TUHAN kepada mereka yang taat mendengar atau menuruti
FirmanNya. Menariknya ialah, takut akan TUHAN, tetap menjadi sikap moral-etis
atau gaya hidup umat. Malah pemazmur mengatakan, “takut akan TUHAN itu suci,
tetap ada untuk selamanya’ [ay.10]. Ini menunjukkan bahwa beriman itu bukan hal
musiman. Sehingga, Desember adalah masa yang baik untuk menunjukkan sikap
‘takut akan TUHAN’. Beriman itu adalah gaya hidup. Jadi harus dinampakkan
setiap hari.
Hal kedua yang menarik ialah dalam
mewujudkan dimensi takut akan TUHAN tadi, pemazmur memosisikan diri sebagai
hamba yang diperingatkan untuk melakukan segala yang difirmankan TUHAN [ay.12].
Jika kita mampu memosisikan diri seperti itu, maka kita tidak akan kedapatan
arogan/sombong.
Orang yang sudah tahu bahwa faedah
dari beriman itu baik, tetapi ia tidak mau meningkatkan kualitas imannya,
adalah orang sombong. Orang seperti itu akan gemar menjadi ‘orang baik-baik’
pada saat bulan Desember, atau jelang Kunci Tahun. Jika ada orang seperti itu,
maka ia belum mampu menjadi hamba yang baik.
Orang sombong seperti itu memang
mengetahui seluruh seluk beluk firman TUHAN. Namun mereka tidak melakukannya
dengan taat/takut akan TUHAN. Sebaliknya, yang berpegang pada firman TUHAN dan
menjadikan itu gaya hidupnya, adalah hamba yang rendah hati.