Minggu, 22 Desember 2013

Menabur Sambil Berjalan Maju


[Mazmur 126:4-6]
U
ngkapan ‘orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya’ [ay.5-6], menjadi menarik untuk dipahami dalam rangkaian Adventus Natal tahun ini.
Ada aktifitas yang sama yang mau ditonjolkan di situ, yaitu ‘menabur dan menuai’. Biasanya kita sebut juga ‘hukum tabur-tuai’ –yang sering diidentikkan dengan pemahaman ‘sapa biking bae, dapa bae; sapa biking seng bae, dapa seng bae’. Ada semacam paham balas jasa seimbang, dalam pemaknaan kita terhadap ‘hukum tabur-tuai itu’.
Namun pemazmur memunculkan suatu realitas yang lain dalam hal ‘tabur-tuai’ yang sekaligus menjadi semangat baru bagi kita dalam menjalani Adventus Natal tahun ini.
Simaklah keadaan orang-orang yang menabur dalam ay.5 dan 6 tadi. Mereka disebutkan menabur dengan mencucurkan air mata, dan terus menabur tiada hentinya [=berjalan maju] sambil menangis. Artinya, orang yang menabur ini terus melakukan tugas panggilannya walau di tengah tantangan yang sangat berat. Sebab hal mencucurkan air mata atau menangis itu simbol dari adanya tantangan yang sangat berat. Namun si penabur tidak mundur atau tidak berhenti, melainkan disebutkan terus menabur tanpa henti, atau terus ‘berjalan maju’.
Karena penabur itu kedapatan terus melakukan tugasnya di tengah tantangan, ia dihadiahi berkat –dalam gambaran menuai dengan sorak-sorai, sambil membawa berkas-berkasnya. Jadi sepanjang Adventus ini kita dimintakan untuk terus melakukan apa yang menjadi tugas panggilan kita meski di tengah tantangan yang berat sekalipun. Jangan mundur, melainkan ‘berjalan maju’.