[Mazmur 126:4-6]
|
U
|
ngkapan
‘orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan
sorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih,
pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya’ [ay.5-6],
menjadi menarik untuk dipahami dalam rangkaian Adventus Natal tahun ini.
Ada aktifitas yang sama yang mau
ditonjolkan di situ, yaitu ‘menabur dan menuai’. Biasanya kita sebut juga
‘hukum tabur-tuai’ –yang sering diidentikkan dengan pemahaman ‘sapa biking bae,
dapa bae; sapa biking seng bae, dapa seng bae’. Ada semacam paham balas jasa
seimbang, dalam pemaknaan kita terhadap ‘hukum tabur-tuai itu’.
Namun pemazmur memunculkan suatu
realitas yang lain dalam hal ‘tabur-tuai’ yang sekaligus menjadi semangat baru
bagi kita dalam menjalani Adventus Natal tahun ini.
Simaklah keadaan orang-orang yang
menabur dalam ay.5 dan 6 tadi. Mereka disebutkan menabur dengan mencucurkan air
mata, dan terus menabur tiada hentinya [=berjalan maju] sambil menangis.
Artinya, orang yang menabur ini terus melakukan tugas panggilannya walau di
tengah tantangan yang sangat berat. Sebab hal mencucurkan air mata atau
menangis itu simbol dari adanya tantangan yang sangat berat. Namun si penabur
tidak mundur atau tidak berhenti, melainkan disebutkan terus menabur tanpa
henti, atau terus ‘berjalan maju’.
Karena penabur itu kedapatan terus
melakukan tugasnya di tengah tantangan, ia dihadiahi berkat –dalam gambaran
menuai dengan sorak-sorai, sambil membawa berkas-berkasnya. Jadi sepanjang
Adventus ini kita dimintakan untuk terus melakukan apa yang menjadi tugas
panggilan kita meski di tengah tantangan yang berat sekalipun. Jangan mundur,
melainkan ‘berjalan maju’.