[Mazmur 123:1-4]
|
H
|
idup,
berarti ada hubungan dengan orang lain.
Dan dalam hubungan ada proses saling mepengaruhi satu sama lain. Artinya, apa
yang kita lakukan dapat berimbas [positif dan negatif] terhadap orang laing
atau sebaliknya. Ini menandakan bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari
amatan, penilaian, bahkan teguran sesama kita.
Dalam berelasi dengan sesama,
kadang pula kita kedapatan tidak sanggup menghadapi segala penilaian dari
sesama. Kita sering dikurung dalam perangkap ‘kesalahan’ –seakan-akan kita
adalah orang yang paling berdosa di muka bumi. Dalam hal kerja, karena
penilaian-penilaian tersebut, bisa saja kita mengalami praktek ketidakatilan.
Pemazmur mengajak kita menghadapi
situasi seperti itu dengan melakukan tindakan introspeksi iman/spiritualitas.
Simaklah ayat 1 dan 2 bacaan kita. Penggunaan istilah seperti ‘melayangkan
mataku, memandang kepada tangan tuannya, memandang kepada tangan nyonyanya’,
dan pemosisian dirinya sebagai hamba terhadap tuan yang adalah TUHAN itu
sendiri, merupakan suatu bentuk introspeksi iman/spiritualitas.
Hal yang mesti kita lakukan ketika
kita dituduhkan melakukan kesalahan, atau dicemooh dan difitnah dalam masyarakat,
ialah ‘memandang kepada TUHAN’. Hal ‘memandang kepada TUHAN’ di sini ialah
memusatkan segenap aktifitas hidup pada mempererat relasi dengan TUHAN, dan
bukan menyibukkan diri dengan segala
macam cemooh dan fitnah dari sesama. Ini dilakukan oleh orang-orang
benar yang diperlakukan tidak adil.
Dengan demikian kita dituntut untuk
menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik; sebuah kualitas iman yang
menjadikan kita anak yang takut TUHAN dalam segala peran dan aktifitas sesehari
kita.