Minggu, 22 Desember 2013

Introspeksi Iman


[Mazmur 123:1-4]
H
idup, berarti  ada hubungan dengan orang lain. Dan dalam hubungan ada proses saling mepengaruhi satu sama lain. Artinya, apa yang kita lakukan dapat berimbas [positif dan negatif] terhadap orang laing atau sebaliknya. Ini menandakan bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari amatan, penilaian, bahkan teguran sesama kita.
Dalam berelasi dengan sesama, kadang pula kita kedapatan tidak sanggup menghadapi segala penilaian dari sesama. Kita sering dikurung dalam perangkap ‘kesalahan’ –seakan-akan kita adalah orang yang paling berdosa di muka bumi. Dalam hal kerja, karena penilaian-penilaian tersebut, bisa saja kita mengalami praktek ketidakatilan.
Pemazmur mengajak kita menghadapi situasi seperti itu dengan melakukan tindakan introspeksi iman/spiritualitas. Simaklah ayat 1 dan 2 bacaan kita. Penggunaan istilah seperti ‘melayangkan mataku, memandang kepada tangan tuannya, memandang kepada tangan nyonyanya’, dan pemosisian dirinya sebagai hamba terhadap tuan yang adalah TUHAN itu sendiri, merupakan suatu bentuk introspeksi iman/spiritualitas.
Hal yang mesti kita lakukan ketika kita dituduhkan melakukan kesalahan, atau dicemooh dan difitnah dalam masyarakat, ialah ‘memandang kepada TUHAN’. Hal ‘memandang kepada TUHAN’ di sini ialah memusatkan segenap aktifitas hidup pada mempererat relasi dengan TUHAN, dan bukan menyibukkan diri dengan segala  macam cemooh dan fitnah dari sesama. Ini dilakukan oleh orang-orang benar yang diperlakukan tidak adil.
Dengan demikian kita dituntut untuk menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik; sebuah kualitas iman yang menjadikan kita anak yang takut TUHAN dalam segala peran dan aktifitas sesehari kita.