Senin, 23 Desember 2013

Miringkan TelingaMu, TUHAN

[Mazmur 130:1-8]
O
rang Ambon/Maluku memiliki ungkapan tersendiri tentang permohonan supaya TUHAN mendengar doanya. Ungkapan itu ialah ‘miringkan telingaMu, TUHAN’. Biasa ungkapan ini kita dengar di penghujung doa, sebagai permohonan supaya TUHAN mendengar segala permintaan doa kita.
Jika ditempatkan dalam relasi umat dengan TUHAN, maka permohonan itu dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan dekat dengan TUHAN. Sebab hal miringkan telinga itu berasal dari kebiasaan ‘bisi-bisi’/’bisik-bisik’, di mana orang yang membisik itu mendekatkan mulutnya ke telinga orang yang mau dibisik; dan mengatakan dengan nada yang pelan, sebuah pesan atau permohonan. Relasi ini terjadi kepada mereka yang memiliki hubungan erat. Malah sudah ada rasa saling percaya di antara mereka.
Kualitas dan bentuk relasi seperti itu yang kita harapkan terwujud antara kita dengan TUHAN. Kualitas relasi itu dipertegas dengan adanya sebuah pesan atau permohonan yang disampaikan, dengan yakin bahwa TUHAN mau mendengar dan sudah tentu akan menjawab, dalam arti memberi apa yang dimintakan dariNya.
Sebab itu, doa merupakan wahana utama untuk mewujudkan relasi yang dekat dengan TUHAN. Melakukan segala perintah dan firmanNya merupakan wujud konkrit dari relasi itu. Maka ketika TUHAN memberi berkat, sebagai bukti IA menjawab doa, maka setiap bentuk jawaban TUHAN itu harusnya semakin meningkatkan kualitas relasi kita dengan-Nya. Dengan sendirinya, setiap hari, orang harus meningkatkan kuantitas dan kualitas doanya. Peningkatan kuantitas dan kualitas doa itu berimbas langsung pada kuantitas dan kualitas peribadahan.
Jika wahana utama itu sudah terbina baik, maka kuantitas dan kualitas perbuatan baik dalam hidup semakin meningkat pula. Semangat ini kiranya menjadi semangat ber-Adventus kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar