[Mazmur 130:1-8]
|
O
|
rang Ambon/Maluku memiliki ungkapan tersendiri tentang
permohonan supaya TUHAN mendengar doanya. Ungkapan itu ialah ‘miringkan
telingaMu, TUHAN’. Biasa ungkapan ini kita dengar di penghujung doa, sebagai
permohonan supaya TUHAN mendengar segala permintaan doa kita.
Jika ditempatkan dalam relasi umat
dengan TUHAN, maka permohonan itu dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan
dekat dengan TUHAN. Sebab hal miringkan telinga itu berasal dari kebiasaan ‘bisi-bisi’/’bisik-bisik’,
di mana orang yang membisik itu mendekatkan mulutnya ke telinga orang yang mau
dibisik; dan mengatakan dengan nada yang pelan, sebuah pesan atau permohonan. Relasi
ini terjadi kepada mereka yang memiliki hubungan erat. Malah sudah ada rasa
saling percaya di antara mereka.
Kualitas dan bentuk relasi seperti
itu yang kita harapkan terwujud antara kita dengan TUHAN. Kualitas relasi itu
dipertegas dengan adanya sebuah pesan atau permohonan yang disampaikan, dengan
yakin bahwa TUHAN mau mendengar dan sudah tentu akan menjawab, dalam arti
memberi apa yang dimintakan dariNya.
Sebab itu, doa merupakan wahana
utama untuk mewujudkan relasi yang dekat dengan TUHAN. Melakukan segala
perintah dan firmanNya merupakan wujud konkrit dari relasi itu. Maka ketika
TUHAN memberi berkat, sebagai bukti IA menjawab doa, maka setiap bentuk jawaban
TUHAN itu harusnya semakin meningkatkan kualitas relasi kita dengan-Nya. Dengan
sendirinya, setiap hari, orang harus meningkatkan kuantitas dan kualitas
doanya. Peningkatan kuantitas dan kualitas doa itu berimbas langsung pada
kuantitas dan kualitas peribadahan.
Jika wahana utama itu sudah terbina
baik, maka kuantitas dan kualitas perbuatan baik dalam hidup semakin meningkat
pula. Semangat ini kiranya menjadi semangat ber-Adventus kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar