[Yohanes 1:19-23]
|
A
|
kulah
suara yang berseru-seru di padang gurun…”. Formulasi ‘Akulah’ atau ‘Aku
adalah…’ [mis. Roti hidup, jalan keselamatan, terang dunia, dll] merupakan gaya
bahasa yang lazim dijumpai dalam Injil Yohanes. Formulasi itu menunjuk pada
proklamasi diri, baik Yohanes maupun Yesus, dalam rangka menegakan ketuhanan
Yesus di tengah-tengah orang banyak/masyarakat umum.
Dalam hidup kita sesehari, ungkapan
‘Akulah…’ mengandung makna yang sangat mendalam mengenai siapa dan bagaimana
kita. Ungkapan itu, dan juga teks kita mengajak kita untuk mengakui siapa kita
sebenarnya, tanpa harus menambah –demi popularitas, atau dikurangi. Eksistensi
diri kita itu adalah suatu anugerah dan tidak usah ditambah-tambahkan atau
dikurangi/ditutupi.
Sebab menambahkan sesuatu yang
tidak ada pada eksistensi kita, membuat kita hidup bagaikan orang yang memakai
topeng. Tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, tetapi cenderung memaksakan
diri seakan-akan kita adalah orang lain dari sisi penampilan, tetapi
tubuh/badan adalah milik kita sendiri.
Yohanes menunjukkan hal itu dalam
teks ini, sebab walaupun banyak orang sudah menjadi muridnya, dan banyak orang
yang sudah dipengaruhi oleh ajaran-ajaranNya, namun ia sesekali pun tidak
mengakui bahwa ia adalah mesias. Melainkan ia menunjuk pada pribadi yang lain
yang harus dinanti sebagai mesias. Yohanes sadar benar siapa dirinya.
Ini yang diperlukan ada pada kita
semua. Sebab di era dewasa ini banyak orang mau menjadi orang ternama, tetapi
dengan mendompleng popularitas orang lain. Padahal ia cukup menjadi dirinya
sendiri, sebab dengan demikian saja ia sudah terkenal. Kita harus menjadi diri
kita saja, sebab itulah yang dikehendaki TUHAN pada kita. Dengan menjadi diri
sendiri, kita mengasah diri dan kemampuan [talenta] kita sambil bersyukur.