Sabtu, 28 Desember 2013

Akulah…


[Yohanes 1:19-23]
A
kulah suara yang berseru-seru di padang gurun…”. Formulasi ‘Akulah’ atau ‘Aku adalah…’ [mis. Roti hidup, jalan keselamatan, terang dunia, dll] merupakan gaya bahasa yang lazim dijumpai dalam Injil Yohanes. Formulasi itu menunjuk pada proklamasi diri, baik Yohanes maupun Yesus, dalam rangka menegakan ketuhanan Yesus di tengah-tengah orang banyak/masyarakat umum.
Dalam hidup kita sesehari, ungkapan ‘Akulah…’ mengandung makna yang sangat mendalam mengenai siapa dan bagaimana kita. Ungkapan itu, dan juga teks kita mengajak kita untuk mengakui siapa kita sebenarnya, tanpa harus menambah –demi popularitas, atau dikurangi. Eksistensi diri kita itu adalah suatu anugerah dan tidak usah ditambah-tambahkan atau dikurangi/ditutupi.
Sebab menambahkan sesuatu yang tidak ada pada eksistensi kita, membuat kita hidup bagaikan orang yang memakai topeng. Tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, tetapi cenderung memaksakan diri seakan-akan kita adalah orang lain dari sisi penampilan, tetapi tubuh/badan adalah milik kita sendiri.
Yohanes menunjukkan hal itu dalam teks ini, sebab walaupun banyak orang sudah menjadi muridnya, dan banyak orang yang sudah dipengaruhi oleh ajaran-ajaranNya, namun ia sesekali pun tidak mengakui bahwa ia adalah mesias. Melainkan ia menunjuk pada pribadi yang lain yang harus dinanti sebagai mesias. Yohanes sadar benar siapa dirinya.
Ini yang diperlukan ada pada kita semua. Sebab di era dewasa ini banyak orang mau menjadi orang ternama, tetapi dengan mendompleng popularitas orang lain. Padahal ia cukup menjadi dirinya sendiri, sebab dengan demikian saja ia sudah terkenal. Kita harus menjadi diri kita saja, sebab itulah yang dikehendaki TUHAN pada kita. Dengan menjadi diri sendiri, kita mengasah diri dan kemampuan [talenta] kita sambil bersyukur.