[Yohanes 1:24-28]
|
M
|
ungkin
ada sedikit orang saja yang tulus mengakui kelebihan orang lain. Padahal jika
kita tulus mengakui kelebihan orang lain, tidak ada ruginya pula bagi kita.
Sebaliknya kita mendapat motivasi untuk semakin meningkatkan kualitas diri
kita.
Belajar mengakui kelebihan orang
lain sebenarnya adalah belajar bersyukur bahwa TUHAN adil, memberi kepada
setiap orang kelebihan masing-masing supaya saling melengkapi. Jadi kita tidak
melakukan semua tugas sendiri, melainkan kita cukup melakukan bagian
tugas/peran kita saja.
Teks hari ini mengajarkan kita
bagaimana mengakui kelebihan orang lain. Ini tergambar dalam pengakuan Yohanes
Pembaptis mengenai siapa dirinya, dan apa tugas serta keterbatasannya. Dan
dalam hal itu Yohanes langsung menunjuk kepada Yesus yang memiliki keutamaan
yang lebih daripadanya.
Walau demikian, Yohanes telah
menjalankan tugas utamanya itu dengan penuh rasa tanggungjawab. Nilai lebih
Yohanes terletak di situ, bahwa ia menjadi pendahulu bagi datangnya seorang
mesias yang akan melakukan suatu hal yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Itu sama sekali tidak mengecilkan arti diri seorang Yohanes Pembaptis.
Kehadiran Yesus justru membuat tugas Yohanes Pembaptis itu memiliki nilai yang
luhur.
Dalam hidup ini, kita pun mungkin
hanya dapat melakukan peran yang kecil dalam penilaian kita dan orang lain.
Namun itu tidak lalu mengecilkan arti diri kita sebagai orang yang dipercayakan
untuk melakukan peran itu. Justru ketika kita dipercayakan suatu peran, di
situlah kita adalah sosok yang penting. Diri kita dinilai layak untuk
menjalankan peran itu, sehingga mesti dapat dijalankan dengan bertanggungjawab.
Jika atas peran itu, kemudian
muncul sesuatu yang besar, dan itu dilakukan oleh orang lain setelah kita,
kesukacitaannya ialah, kita telah menjadi orang yang pertama mempersiapkan
keberhasilan itu.