Minggu, 29 Desember 2013

Dia Lebih, Dibandingkan Aku


[Yohanes 1:24-28]
M
ungkin ada sedikit orang saja yang tulus mengakui kelebihan orang lain. Padahal jika kita tulus mengakui kelebihan orang lain, tidak ada ruginya pula bagi kita. Sebaliknya kita mendapat motivasi untuk semakin meningkatkan kualitas diri kita.
Belajar mengakui kelebihan orang lain sebenarnya adalah belajar bersyukur bahwa TUHAN adil, memberi kepada setiap orang kelebihan masing-masing supaya saling melengkapi. Jadi kita tidak melakukan semua tugas sendiri, melainkan kita cukup melakukan bagian tugas/peran kita saja.
Teks hari ini mengajarkan kita bagaimana mengakui kelebihan orang lain. Ini tergambar dalam pengakuan Yohanes Pembaptis mengenai siapa dirinya, dan apa tugas serta keterbatasannya. Dan dalam hal itu Yohanes langsung menunjuk kepada Yesus yang memiliki keutamaan yang lebih daripadanya.
Walau demikian, Yohanes telah menjalankan tugas utamanya itu dengan penuh rasa tanggungjawab. Nilai lebih Yohanes terletak di situ, bahwa ia menjadi pendahulu bagi datangnya seorang mesias yang akan melakukan suatu hal yang jauh lebih besar daripada dirinya. Itu sama sekali tidak mengecilkan arti diri seorang Yohanes Pembaptis. Kehadiran Yesus justru membuat tugas Yohanes Pembaptis itu memiliki nilai yang luhur.
Dalam hidup ini, kita pun mungkin hanya dapat melakukan peran yang kecil dalam penilaian kita dan orang lain. Namun itu tidak lalu mengecilkan arti diri kita sebagai orang yang dipercayakan untuk melakukan peran itu. Justru ketika kita dipercayakan suatu peran, di situlah kita adalah sosok yang penting. Diri kita dinilai layak untuk menjalankan peran itu, sehingga mesti dapat dijalankan dengan bertanggungjawab.
Jika atas peran itu, kemudian muncul sesuatu yang besar, dan itu dilakukan oleh orang lain setelah kita, kesukacitaannya ialah, kita telah menjadi orang yang pertama mempersiapkan keberhasilan itu.