Selasa, 31 Desember 2013

Semua Karena TUHAN


[Pengkhotbah 8:9-17]
H
ormat kepada Nama TUHAN. Hari ini kita telah mengakhiri tahun 2013 dengan segala pengalaman dan lika-likunya. Apakah segala sesuatu yang kita lakukan sepanjang tahun ini sia-sia saja? Apakah di tiap pengalaman yang kita alami, baik suka, duka, susah, senang, adalah juga untuk kesia-siaan? Apakah pertambahan usia kelahiran, usia pernikahan adalah juga demi kesia-siaan? Apakah kenaikan kelas, lulus sekolah dan jadi sarjana juga untuk kesia-siaan?
Kitab Pengkhotbah memang melukiskan bahwa segala sesuatu sia-sia. Namun baiklah kita memahami alasan penulis kitab ini mengatakan sedemikian. Alasan pokoknya ialah, manusia dengan hikmatnya, tidak akan pernah sanggup menyelami kedalaman hikmat Allah. Yang diperlukan ialah, baiklah manusia mengakui dua hal, yaitu [1] hikmatnya lebih rendah di banding hikmat Allah, dan [2] bahwa segala sesuatu dijadikan TUHAN dengan maksudNya yang khusus –dan tentu bukan maksud kesia-siaan.
Namun, dalam dua hal tadi, manusia selalu memaksakan agar TUHAN melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak manusia itu. Karena itu manusia selalu kedapatan tidak puas, dan sebabnya suka protes TUHAN. Manusia mau mengatur TUHAN sekehendak hatinya. Ibarat, belum saatnya musim menuai, sudah memaksakan diri untuk panen. Belum saatnya terima gaji, sudah memaksakan kehendak agar gaji segera dibayar. Nasi belum masak, sudah memaksakan diri untuk segera makan siang.
Sepanjang tahun ini, TUHAN sudah melakukan segala sesuatu. Dan tentu itu baik pada waktu yang ditetapkanNya. Dalam rupa-rupa masalah yang kita hadapi, untuk maksud yang baiklah TUHAN mengadakannya bagi kita. Jadi marilah berhenti sejenak dan percayalah bahwa: ‘sepanjang tahun ini tidak ada satu pun hal yang sia-sia kita alami dengan TUHAN’. Selamat Kunci Tahun.