[Pengkhotbah 8:9-17]
|
H
|
ormat
kepada Nama TUHAN. Hari ini kita telah mengakhiri tahun 2013 dengan segala
pengalaman dan lika-likunya. Apakah segala sesuatu yang kita lakukan sepanjang
tahun ini sia-sia saja? Apakah di tiap pengalaman yang kita alami, baik suka,
duka, susah, senang, adalah juga untuk kesia-siaan? Apakah pertambahan usia
kelahiran, usia pernikahan adalah juga demi kesia-siaan? Apakah kenaikan kelas,
lulus sekolah dan jadi sarjana juga untuk kesia-siaan?
Kitab Pengkhotbah memang melukiskan
bahwa segala sesuatu sia-sia. Namun baiklah kita memahami alasan penulis kitab
ini mengatakan sedemikian. Alasan pokoknya ialah, manusia dengan hikmatnya,
tidak akan pernah sanggup menyelami kedalaman hikmat Allah. Yang diperlukan
ialah, baiklah manusia mengakui dua hal, yaitu [1] hikmatnya lebih rendah di
banding hikmat Allah, dan [2] bahwa segala sesuatu dijadikan TUHAN dengan
maksudNya yang khusus –dan tentu bukan maksud kesia-siaan.
Namun, dalam dua hal tadi, manusia
selalu memaksakan agar TUHAN melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak
manusia itu. Karena itu manusia selalu kedapatan tidak puas, dan sebabnya suka
protes TUHAN. Manusia mau mengatur TUHAN sekehendak hatinya. Ibarat, belum
saatnya musim menuai, sudah memaksakan diri untuk panen. Belum saatnya terima
gaji, sudah memaksakan kehendak agar gaji segera dibayar. Nasi belum masak,
sudah memaksakan diri untuk segera makan siang.
Sepanjang tahun ini, TUHAN sudah
melakukan segala sesuatu. Dan tentu itu baik pada waktu yang ditetapkanNya.
Dalam rupa-rupa masalah yang kita hadapi, untuk maksud yang baiklah TUHAN
mengadakannya bagi kita. Jadi marilah berhenti sejenak dan percayalah bahwa:
‘sepanjang tahun ini tidak ada satu pun hal yang sia-sia kita alami dengan
TUHAN’. Selamat Kunci Tahun.