Sabtu, 04 Januari 2014

Keluarga Di Dunia Masa Kini

Seandainya tidak segera terjadi perubahan kebiasaan manusia masa kini atau tepatnya kebudayaan, dunia akan menjadi dunia yang menakutkan (horror mundi).
Mengapa disebut dunia yang menakutkan?
Ada dua alasannya: pertama, oleh karena makna hidup manusia tidak lagi terkait erat dengan Allah Sang Pencipta. Manusia semakin menjadi makhluk yang sombong, yang mengklaim diri mampu mengatasi segala sesuatu.
Kitab Kejadian 11 sudah menuliskan kecenderungan ini. Tertulis dalam Kejadian 11:5 manusia berkata: “Marilah kita diri bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi;.
“Ungkapan “cari nama” menyiratkan kuatnya hasrat manusia dalam egoisme dan kesombongan.
Kedua , dunia disebut menakutkan oleh karena rasa kebersamaan atau persaudaraan manusia kian meluntur. Manusia semakin menjadi makhluk yang egois, pragmatis, dan serakah. Ia cenderung mengutamakan kepentingan mereka sendiri. Tidak lagi peduli dengan yang lain. Yang penting aku sukses dan jaya. Masa bodoh orang lin.
Itulah dunia yang menakutkan. Dunia seperti itulah yang akan kita hadapi jika kita tidak berbenah diri mulai dari sekarang. apa yang perlu kita benahi?
Dalam novelnya Semar Mencari Raja. Romo Sindhunata melukiskan, harapan perbaikan dunia terletak pada anak-anak. Anak-anak itulah yang akan memasuki dunia masa depan, dan pada pundak merekalah sebenarnya dunia ini apa jadinya. Apakah mereka akan membuat dunia menjadi semaikin menakutkan? Atau semakin membahagiakan?
Kalau memang anak-anak merupakan tumpuan harapan untuk perbaikan dunia masa depan, maka yang harus kita benahi adalah hubungan kita dengan anak-anak. Kita perlu merenungkan kembali bagaimana kita memperlakukan anak-anak. Apakah kita sudah memberikan teladan yang baik kepada mereka? Apakah kita sudah menjadikan keluarga kita sebagai rumah doa dan rumah pendidikan bagi mereka?
Kalau kita berbenah diri untuk masa dunia, mulai dari sekarang dan mulai dari kehidupan keluarga kita, maka kita akan menggenapi amsal ini: “Mahkota orang-orang tua adalah anak, cucu, dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka” (Amsal 17:6);

Tidak ada komentar:

Posting Komentar