Seandainya tidak segera terjadi perubahan kebiasaan manusia masa kini atau tepatnya kebudayaan, dunia akan menjadi dunia yang menakutkan (horror mundi).
Mengapa disebut dunia yang menakutkan?
Ada dua alasannya: pertama, oleh karena makna hidup manusia tidak lagi terkait erat dengan Allah Sang Pencipta. Manusia semakin menjadi makhluk yang sombong, yang mengklaim diri mampu mengatasi segala sesuatu.
Kitab Kejadian 11 sudah menuliskan kecenderungan ini. Tertulis dalam Kejadian 11:5 manusia berkata: “Marilah
kita diri bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya
sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan
terserak ke seluruh bumi;.
“Ungkapan “cari nama” menyiratkan kuatnya hasrat manusia dalam egoisme dan kesombongan.
Kedua , dunia disebut menakutkan oleh karena rasa kebersamaan atau persaudaraan manusia kian meluntur. Manusia
semakin menjadi makhluk yang egois, pragmatis, dan serakah. Ia
cenderung mengutamakan kepentingan mereka sendiri. Tidak lagi peduli
dengan yang lain. Yang penting aku sukses dan jaya. Masa bodoh orang
lin.
Itulah dunia yang menakutkan. Dunia seperti itulah yang akan kita
hadapi jika kita tidak berbenah diri mulai dari sekarang. apa yang perlu
kita benahi?
Dalam novelnya Semar Mencari Raja. Romo Sindhunata melukiskan, harapan
perbaikan dunia terletak pada anak-anak. Anak-anak itulah yang akan
memasuki dunia masa depan, dan pada pundak merekalah sebenarnya dunia
ini apa jadinya. Apakah mereka akan membuat dunia menjadi semaikin
menakutkan? Atau semakin membahagiakan?
Kalau memang anak-anak merupakan tumpuan harapan
untuk perbaikan dunia masa depan, maka yang harus kita benahi adalah
hubungan kita dengan anak-anak. Kita perlu merenungkan kembali bagaimana
kita memperlakukan anak-anak. Apakah kita sudah memberikan teladan yang
baik kepada mereka? Apakah kita sudah menjadikan keluarga kita sebagai
rumah doa dan rumah pendidikan bagi mereka?
Kalau kita berbenah diri untuk masa dunia, mulai dari sekarang dan mulai dari kehidupan keluarga kita, maka kita akan menggenapi amsal ini: “Mahkota orang-orang tua adalah anak, cucu, dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka” (Amsal 17:6);
Tidak ada komentar:
Posting Komentar