Jumat, 27 Desember 2013

Saat ‘Ku Dibaptis


[Markus 1:9-11]
G
ereja sepanjang masa dipanggil untuk memelihara persekutuan ibadah, memberitakan Injil, melayankan sakramen, dan mewujudkan pendamaian dan pelayanan kasih kepada semua orang. Itu adalah empat tanda gereja itu hidup dan ada di tengah-tengah dunia.
Dalam kebiasaan bergereja, hari ini di semua gereja berlangsung ibadah perayaan Natal yang secara khusus dilaksanakan pelayanan Baptisan Kudus. Karena itu, baiklah kita merefleksikan makna baptisan itu bagi kita, dan juga bagi keluarga kita.
Teks kita mengandung beberapa makna pokok tentang baptisan. Pertama, baptisan merupakan bentuk panggilan TUHAN kepada setiap orang, siapa pun dia. Ini ditunjukkan dengan peristiwa, Yesus datang dari Nazaret untuk dibaptis. Hal Yesus datang mengandung makna bahwa orang yang dibaptis itu dipanggil oleh TUHAN. Sehingga hari kita dibaptis adalah hari khusus, hari kita memenuhi panggilan TUHAN. Dalam praktek di GPM, termasuk anak-anak pun dipanggil. Dan itu berarti baptisan adalah panggilan TUHAN atas sebuah keluarga.
Kedua, air merupakan simbol yang dengannya, seseorang dibaptis. Memang selama ini banyak pihak mempertentangkan cara seseorang dibaptis. Namun bagi kita di GPM, cara itu tidak menyelamatkan. Sebab dengan cara apa pun, baptisan itu adalah bagian dari ikatan kehidupan seorang beriman dengan TUHAN. Sehingga yang penting adalah terjadinya ikatan itu, dan ikatan itu dikukuhkan demi Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Karena itu, ketiga, baptisan itu adalah akta yang melaluiNya TUHAN berkenan kepada anak yang dibaptis. Sebab itu setiap orang yang telah dibaptis berkenan dijadikan anak kesayangan oleh TUHAN. Dengan demikian, ia terikat untuk selama-lamanya dengan TUHAN. Baptisan adalah tanda janji untuk hidup kekal dengan TUHAN. Karena itu baptisan tidak dapat diputuskan.