[Mazmur 125:1-5]
|
T
|
anpa
percaya atau iman kepada TUHAN, manusia tidak mendapat kesejatiannya. Sejatinya
manusia itu ketika ia menyadari bahwa ia hasil ciptaan tangan TUHAN. Kesadaran
sebagai hasil ciptaan, menjadi dasar dari kesadaran beriman. Sebab dengan
kesadaran itu manusia percaya bahwa, ia dijadikan oleh kuasa yang
menjadikannya, dan kuasa itu ialah TUHAN.
Buah dari percaya, menurut Mazmur
125:1-5 dapat dilihat dalam hal: [1] kehidupan yang stabil [ay.1], dalam arti
tegar walau di tengah berbagai masalah. Ini bukti dari adanya kemandirian sikap
iman; [2] kekudusan diri karena TUHAN ada selalu dalam hidup umatnya [ay.2];
ini disimbolkan dengan Yerusalem yang dijaga sekelilingnya oleh TUHAN. Hal ini
sebenarnya merupakan wujud bahwa TUHAN ada di dalam hidup umat yang beribadah,
sebab Yerusalem yang dimaksud di sini menunjuk pada Bait Allah; [3] kebenaran
melingkupi orang yang percaya [ay.3], dan segala perkara
ketidakadilan/kefasikan jauh darinya, serta tidak sanggup menjeratnya; [4]
mendapat kebaikan TUHAN, dalam hal menikmati kasih setiaNya sepanjang waktu [ay.4-5].
Dari keempat buah itu, umat akan
benar-benar dijauhkan dari segala rancangan kejahatan dan ketidakadilan yang
dirancang oleh orang-orang yang tidak percaya kepada TUHAN. Suatu wujud kasih
setia TUHAN yang nyata.
Lagi-lagi, syaratnya adalah percaya
atau hidup hanya mengandalkan TUHAN. Dengan demikian kesejatian manusia itu
menjadi sempurna. Sebab itu, sebagai hasil ciptaan TUHAN, kita harus
menaklukkan diri di bawah kuasa TUHAN, dan tidak menjadi orang-orang yang
sombong. Sebab kesombongan membuat kita terjebak melakukan tindakan-tindakan
ketidakadilan, kekerasan, dan semua itu adalah wujud dari kefasikan. Orang
percaya itu tahu segala hal yang baik untuk dituruti dan yang buruk untuk
dijauhi. Dengan menuruti segala yang baik, maka ia akan menjadi orang percaya
yang kokoh.