Senin, 23 Desember 2013

Buah dari Percaya


[Mazmur 125:1-5]
T
anpa percaya atau iman kepada TUHAN, manusia tidak mendapat kesejatiannya. Sejatinya manusia itu ketika ia menyadari bahwa ia hasil ciptaan tangan TUHAN. Kesadaran sebagai hasil ciptaan, menjadi dasar dari kesadaran beriman. Sebab dengan kesadaran itu manusia percaya bahwa, ia dijadikan oleh kuasa yang menjadikannya, dan kuasa itu ialah TUHAN.
Buah dari percaya, menurut Mazmur 125:1-5 dapat dilihat dalam hal: [1] kehidupan yang stabil [ay.1], dalam arti tegar walau di tengah berbagai masalah. Ini bukti dari adanya kemandirian sikap iman; [2] kekudusan diri karena TUHAN ada selalu dalam hidup umatnya [ay.2]; ini disimbolkan dengan Yerusalem yang dijaga sekelilingnya oleh TUHAN. Hal ini sebenarnya merupakan wujud bahwa TUHAN ada di dalam hidup umat yang beribadah, sebab Yerusalem yang dimaksud di sini menunjuk pada Bait Allah; [3] kebenaran melingkupi orang yang percaya [ay.3], dan segala perkara ketidakadilan/kefasikan jauh darinya, serta tidak sanggup menjeratnya; [4] mendapat kebaikan TUHAN, dalam hal menikmati kasih setiaNya sepanjang waktu [ay.4-5].
Dari keempat buah itu, umat akan benar-benar dijauhkan dari segala rancangan kejahatan dan ketidakadilan yang dirancang oleh orang-orang yang tidak percaya kepada TUHAN. Suatu wujud kasih setia TUHAN yang nyata.
Lagi-lagi, syaratnya adalah percaya atau hidup hanya mengandalkan TUHAN. Dengan demikian kesejatian manusia itu menjadi sempurna. Sebab itu, sebagai hasil ciptaan TUHAN, kita harus menaklukkan diri di bawah kuasa TUHAN, dan tidak menjadi orang-orang yang sombong. Sebab kesombongan membuat kita terjebak melakukan tindakan-tindakan ketidakadilan, kekerasan, dan semua itu adalah wujud dari kefasikan. Orang percaya itu tahu segala hal yang baik untuk dituruti dan yang buruk untuk dijauhi. Dengan menuruti segala yang baik, maka ia akan menjadi orang percaya yang kokoh.