Sabtu, 04 Januari 2014

Doa dan Puasa


DOA dan PUASA saat ini makin populer di Indonesia, apalagi situasi krisis nasional yang belum terlihat kapan akan berhenti membuat kekuatiran manusia menjadi-jadi. Bagi manusia beriman, doa dan puasa makin belakangan ini makin banyak dipraktekkan dengan harapan Tuhan mendengar doa-doa mereka dan pendoa dilepaskan dari kemelut krisis itu.
TENTANG DOA
Majalah Newsweek pernah memuat artikel menarik hasil angket yang berjudul “Is God Listening?” (31 Maret 1997) dengan sub judul yang berbunyi “Banyak orang Amerika berdoa setiap hari sekalipun tidak ada yang tahu mengapa hanya beberapa yang dijawab.” Hasil angket itu menarik untuk disimak, soalnya disebutkan disitu bahwa dalam doa-doa mereka yang disurvai, 82% menyebut mereka meminta kesehatan dan sukses, 75% meminta kekuatan, 73% berharap doa bisa menjawab kebutuhan mereka bila ingin mencari pekerjaan., dan 79% percaya Tuhan akan memberikan mujijat kesembuhan bila mereka berdoa. Jadi, kenyataannya doa-doa cenderung merupakan sarana “meminta-minta untuk diri sendiri.” Benarkah doa-doa demikian?
Dari terang angket di atas kita dapat memastikan bahwa maraknya aktivitas dan gerakan Doa dan Puasa akhir-akhir ini di Indonesia akan lebih banyak berorientasi bagaimana pendoa bisa dilepaskan dari krisis yang berkepanjangan dan bagaimana usaha mereka bisa bangkit dan untuk berbisnis kembali. Lebih-lebih, dalam ajaran “kemakmuran” yang menekankan “berkat Tuhan sebagai bukti iman” tentu doa-doa yang tidak berkeputusan itu ditujukan bagaimana berkat itu bisa mengucur kembali kepada mereka dan tidak seperti kucuran pinjaman IMF yang diterima Indonesia yang sifatnya sedikit-demi-sedikit!
Menarik untuk dismak, mengapa masyarakat Kristen yang mulai gandrung kembali mengikuti persekutuan-persekutuan doa dan kemudian ibadat-ibadat doa, doa kuasa dan doa puasa sejak tahun 1960-an dan kini diperluas memasuki jaringan doa secara nasional, tetapi kekristenan malah makin dipersulit, gereja-gereja makin banyak dihancurkan dan banyak yang dibakar, dan bahkan ada bukit doa yang dihancurkan massa? Ada dua kemungkinan jawabannya, pertama adalah doa-doa itu begitu manjur sehingga banyak orang bertobat dan menjadi Kristen sehingga menimbulkan kemarahan pihak lain, dan kedua, mungkin doa-doa itu seperti angket Newsweek di atas cenderung berisi permintaan yang bersifat mencari selamat dan keuntungan diri sendiri tetapi kurang ditekankan dalam mengingatkan diri sendiri dan jemaat Kristen untuk bertobat dari segala dosa KKN dan menjadi “surat-surat Kristus” di tengah-tengah masyarakat.
Kelihatannya kemungkinan pertama tipis, karena dari banyak pengamatan diketahui bahwa pertambahan kwantitas pemeluk Kristen tidak berarti tetapi faktanya memang pertumbuhan jumlah gereja-gereja baru dan persekutuan-persekutuan meningkat luar biasa, jadi yang terjadi bukan pertumbuhan gereja tetapi perpindahan jemaat. Kemungkinan kedua memang lebih besar karena faktanya gerakan-gerakan doa cenderung dimotori oleh orang-orang yang berpandangan iman vertikalis (keselamatan pribadi) dan bahkan ekstatis yang cenderung mengejar kuasa (berjatuhan), mujizat (kesembuhan dan berkat) dan sensasi (tertawa-tawa & kesurupan) dalam kehidupan kristiani. Ini jelas terbukti dari dipopulerkannya “doa menuntut” (ajaran kemakmuran) yang cenderung narsistik isinya sedangkan doa penyadaran tentang dosa-dosa pendoa dan jemaat yang korup, kolusi dan nepotis jarang diucapkan!
Tepat seperti yang dikatakan nabi Yesaya bahwa:
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga ia tidak mau mendengar, ialah segala dosamu.” (Yes.59:1-2).
Tepat juga kritik Tuhan Yesus yang mengatakan:
“Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.” (Mat.7:21).
Memang tidak salah kalau doa-doa ditujukan untuk pertobatan orang lain atau suku-suku terasing, tetapi doa juga harus ditujukan untuk orang-orang yang sudah menerima firman agar mereka bertobat dan taat akan kehendak Allah yang diperintahkan dalam firmanNya.
Rasul Paulus berdoa syafaat agar “doa bukan sekedar untuk mengenal Tuhan tetapi supaya kita berakar dan berdasar di dalam kasih.” (Efs.1:15dst.;3:14dst.), rasul Yakobus mengingatkan bahwa “doa adalah salah kalau meminta untuk memuaskan diri” (Yak,4:3), rasul Petrus mengemukakan doa harus ditujukan untuk “hidup dalam kasih dan menjauhi dosa.” (I-Pet.4:7-8), dan rasul Yohanes mengingatkan bahwa “doa kita hanya dikabulkan bila meminta sesuai dengan kehendak Tuhan.” (I-Yoh.5:14).
Tuhan Yesus memberikan contoh “doa Bapa Kami” yang terkenal itu (Mat.6:9-13) yang berisi:
Pertama, pujian akan kekudusan Tuhan,
Kedua, permohonan agar kerajaannya (dengan umat yang taat) dan kehendakNya (untuk ditaati) berlaku di bumi ini.
Ketiga, permintaan akan berkat makanan yang secukupnya (bukan berkelebihan) dan agar kita diampuni dosanya (bertobat) dan agar kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita (kasih).
Keempat, permintaan agar dilepaskan dari pencobaan (seperti godaan harta, band. Mat.6:19-21) dan kejahatan (seperti KKN tentunya).
Kelima, pujian akan kuasa dan kemuliaan Tuhan.
Dari terang pembahasan di atas, jelas doa-doa tidak akan ada artinya dan tidak akan didengar Tuhan bila pendoa masih korupsi, kolusi maupun nepotis, dan tidak melakukan kehendak Allah melainkan masih melakukan dosa-dosa pribadi maupun sosial lainnya.
TENTANG PUASA
Agar doa-doa lebih mantab dan berkhasiat banyak orang cenderung berdoa dengan puasa atau melakukan “doa puasa”, tetapi dengarkanlah suara nabi Yesaya mengkritik doa puasa yang hanya bersifat ritual dan lahiriah:
“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah roti bagi orang yang lapar dan membawa kerumahmu orang miskin yang tidak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes.58:6-7)
Jadi umat beriman tidak ada artinya kalau melakukan puasa secara lahir tetapi tidak mengasihi sesamanya, dengan kata lain tidak ada artinya berpuasa kalau ia tidak menolong sesamanya yang lapar, miskin dan telanjang.
Tidak ada artinya doa puasa seorang pengembang Kristen bila ia menggusur rumah-rumah orang miskin, tidak ada artinya dan doa puasa seorang pengusaha selama ia masih menggaji buruhnya dibawah standar atau pabriknya membuang air limbahnya disungai yang mengotori tambak hidup orang lain, demikian juga tidak ada artinya doa-puasa para pengusaha yang merengut dengan berhektar-hektar lahan petani untuk bergembira ria bermain golf.
Masa kini doa-doa dan doa-doa puasa sudah dijadikan hajat nasional oleh banyak orang Kristen dan tidak sedikit sumbangan dana para konglomerat masuk dalam usaha-usaha doa dan doa-puasa demikian. Sudah tiba saatnya dalam era reformasi nasional di tanah air ini, kita meningkatkan doa-doa dan doa-puasa menjadi langkah praktis untuk juga mentobatkan para konglomerat (termasuk donor) dan mengingatkan agar mereka lepas dari yang jahat yang merupakan praktek-praktek KKN masa lalu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Sudah tiba saatnya jemaat, pendeta dan gereja mengingatkan diri sendiri dan gerejanya untuk kembali dengar-dengaran akan kehendak Allah dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari dalam kasih, kebenaran dan keadilan, karena itulah doa-doa dan doa-puasa yang sebenarnya!
Amin!

Rabu, 01 Januari 2014

Segalanya Baru


[Wahyu 21:1-6]
T
ahun 2014 telah tiba. Pagi ini kita telah menjadi bagian dari sebuah proses sejarah dunia yang baru, sejarah di tahun 2014. Ibadah kita pagi ini adalah ibadah pertama di tahun 2014. Karena itu jika kita tidak mengambil bagian di dalamnya, maka kita tidak tercatat dalam bilangan orang-orang yang bangun pagi-pagi dan mencari TUHAN di hari pertama tahun ini.
Inilah Tahun Baru yang diadakan TUHAN kepada kita. Mengapa TUHAN selalu memberi yang ‘baru’ kepada umatNya? Kitab Wahyu dan seluruh kitab dalam Alkitab menjawab, sebab kasih karuniaNya besar bagi dunia dan manusia. CintaNya lebih kepada ciptaanNya.
Sebab itu, TUHAN memberi segala yang ‘baru’ sebagai bukti bahwa, IA masih terus memulihkan kita dari segala kondisi hidup kita. Pekerjaan pemulihan TUHAN masih berlangsung. Jadi setiap hari ketika kita tiba di hari yang baru, dan kini di tahun yang baru, itu artinya TUHAN masih terus melakukan pemulihan atas kita, rumah tangga kita, jemaat dan masyarakat kita, serta atas alam semesta.
Pemulihan itu diberinya cuma-cuma, jadi tidak dipungut bayaran sepeser pun. Itulah sifat TUHAN. Bahwa IA baik, dan kebaikanNya itu terwujud melalui pemberian cuma-cuma kepada semua manusia.
Mengapa TUHAN memberi segalanya cuma-cuma? Karena IA tidak terbatas. IA Alfa dan Omega. IA lebih di dalam segala sesuatu, dan tidak habis cinta dan kasihNya kepada ciptaanNya. IA Alfa dan Omega, maka IA memulai suatu hari baru dengan kita, dan mengakhirinya pun bersama-sama dengan kita.
Sebab itu di tahun baru ini kita percaya bahwa karena TUHAN yang memulihkan kita dan membawa kita masuk ke 2014, maka percayalah pula bahwa IA akan terus bersama kita sampai kita memasuki 2015 nantinya. Karena TUHAN itu Alfa dan Omega.  SELAMAT TAHUN BARU 2014.

Selasa, 31 Desember 2013

Sisihkan Waktu Satu Menit Untuk Berdoa sebelum Tahun 2013


Kurang lebih 30 jam ke depan kita akan memasuk tahun 2013.
Tahun baru 2013 merupakan titik awal kita dalam mengumpulkan  nilai pada buku amal kita  masing masing, kita harus bisa mengkoreksi diri disaat detik detik akhir penggantian tahun,.
Sudahkah kita menghayati bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus, yang saling mengasihi seorang terhadapayang lain? Sudahkah kita menghayati Kristus sebagai Kepala Seluruh kehidupan kita, di dalam hidup berjemaat dan bermasyarakat, di dalam keluarga dan pekerjaan Kita?
Dengan datangnya Tahun baru 2013  marilah kita “Intropeksi” diri, merenung kebelakang apa saja yang telah kita perbuat selama in supaya dalam menghadapi awal tahun baru ini bisa memperbaiki segala bentuk perilaku kita sehari-hari.
Mari kita menyisihkan waktu kita satu menit untuk berdoa:
Tuhan Yesus, sebentar lagi kami akan meninggalkan tahun 2012 ini, dan memasuki tahun yang baru yaitu tahun 2013.
Ada banyak ramalan dan prediksi akan apa yang akan terjadi di tahun 2013. Bahkan di tahun 2012 inipun ada banyak orang yang terkecoh dengan rumor terjadinya kiamat di akhir tahun ini, sehingga mereka menimbun  makanan, membuat alat penyelamat, dan berbagai hal lainnya yang dianggap dapat menyelamatkan diri mereka dari hari kiamat.
Sebagai umat yang percaya kepadaMu Tuhan, kami menyakini bahwa tiada seorangpun yang tahu akan hari kedatanganMu,  karena Engkau akan datang seperti pencuri tanpa seorangpun menyadarinya.
Kami hanya dapat berjaga-jaga  dan menjalani hidup dengan bijaksana setiap harinya seturut firmanMu. Tolong kami ya Tuhan, agar kami dapat menginvestasikan hidup kami ini dalam hal-hal yang bernilai kekal, yang tak akan pupus oleh waktu.
Jangan biarkan iman kami menjadi lemah, kami ingin saat kedatanganMu, dan depat mempertanggungjawabkan  kehidupan kami ini dengan baik dan membuatMu bangga.
KepadaMu ya Tuhan Yesus, kami panjatkan doa ini.
Amin

Semua Karena TUHAN


[Pengkhotbah 8:9-17]
H
ormat kepada Nama TUHAN. Hari ini kita telah mengakhiri tahun 2013 dengan segala pengalaman dan lika-likunya. Apakah segala sesuatu yang kita lakukan sepanjang tahun ini sia-sia saja? Apakah di tiap pengalaman yang kita alami, baik suka, duka, susah, senang, adalah juga untuk kesia-siaan? Apakah pertambahan usia kelahiran, usia pernikahan adalah juga demi kesia-siaan? Apakah kenaikan kelas, lulus sekolah dan jadi sarjana juga untuk kesia-siaan?
Kitab Pengkhotbah memang melukiskan bahwa segala sesuatu sia-sia. Namun baiklah kita memahami alasan penulis kitab ini mengatakan sedemikian. Alasan pokoknya ialah, manusia dengan hikmatnya, tidak akan pernah sanggup menyelami kedalaman hikmat Allah. Yang diperlukan ialah, baiklah manusia mengakui dua hal, yaitu [1] hikmatnya lebih rendah di banding hikmat Allah, dan [2] bahwa segala sesuatu dijadikan TUHAN dengan maksudNya yang khusus –dan tentu bukan maksud kesia-siaan.
Namun, dalam dua hal tadi, manusia selalu memaksakan agar TUHAN melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak manusia itu. Karena itu manusia selalu kedapatan tidak puas, dan sebabnya suka protes TUHAN. Manusia mau mengatur TUHAN sekehendak hatinya. Ibarat, belum saatnya musim menuai, sudah memaksakan diri untuk panen. Belum saatnya terima gaji, sudah memaksakan kehendak agar gaji segera dibayar. Nasi belum masak, sudah memaksakan diri untuk segera makan siang.
Sepanjang tahun ini, TUHAN sudah melakukan segala sesuatu. Dan tentu itu baik pada waktu yang ditetapkanNya. Dalam rupa-rupa masalah yang kita hadapi, untuk maksud yang baiklah TUHAN mengadakannya bagi kita. Jadi marilah berhenti sejenak dan percayalah bahwa: ‘sepanjang tahun ini tidak ada satu pun hal yang sia-sia kita alami dengan TUHAN’. Selamat Kunci Tahun.

Senangkan Hati TUHAN


[Mazmur 147:7-11]
U
mumnya kita memahami bahwa TUHAN senang pada puji-pujian kita. Pemazmur malah berkata TUHAN bertakhta di atas puji-pujian umatNya. Namun di bagian Mazmur 147:7-11 ini, yang membuat hati TUHAN senang, adalah sikap takut TUHAN.
Orang yang takut TUHAN adalah mereka yang menaruh hormat akan nama TUHAN –yaitu tidak menyebut namaNya untuk kesia-siaan, dan tidak memakai namaNya untuk membenarkan kesalahan [bnd. Orang yang suka bersumpah palsu atas nama TUHAN].
Orang yang takut TUHAN itu membungkukkan dirinya, sujud bahkan dengan wajah sampai ke tanah, sebagai tanda hormat pada kemuliaanNya. Ini diwujudkan dalam hal ketekunan beribadah. Maka setiap orang harus mencintai jam-jam ibadahnya.
Orang yang takut TUHAN itu membuka telinganya untuk mendengar sabda/firman/perintah TUHAN. Mereka mewujudkannya dengan jalan melakukan kebaikan, dan tidak melakukan dosa. Sebab perbuatan baik itu sepadan dengan firman TUHAN. Perbuatan jahat/dosa itu berlawanan dengan firman TUHAN.
Orang yang takut TUHAN itu selalu mau mencium kaki TUHAN. Ini diwujudkan dalam kesetiaannya berdoa setiap waktu dan menjadikan doa itu sebagai kekuatan bagi hidupnya.
Orang yang takut TUHAN itu suka melayani. Ini diwujudkan dalam kepeduliannya kepada mereka yang lemah [seperti janda, duda, anak yatim-piatu, atau orang miskin].
Semua ini kiranya menjadi bahan perenungan kita, sebelum kita mengakhiri tahun 2013 dan menjadikan tahun ini sebagai tahun penuh syukur agar kita terus menjadi jemaat yang takut TUHAN. 

Senin, 30 Desember 2013

Semua, Pujilah TUHAN


[Mazmur 148:1-14]
T
anpa terasa kita semakin dekat di penghujung tahun ini. Itu artinya, sudah hampir satu tahun penuh TUHAN menyertai kita, dan berjalan bersama kita. Semua orang, kecil-besar, pegawai-petani-nelayan, pedagang grosir-papalele, sopir angkot-mobil rental-tukang ojek-pendayung perahu, polisi-tentara-satpam, penjaga sekolah-petugas kebersihan, dan apa pun profesi, telah dapat kita jalani sepanjang tahun ini karena penyertaan TUHAN.
Karena itu, tidak ada alasan lain, selain memuji TUHAN, sebab IA telah menunjukkan kasihNya dalam memelihara kita, juga alam semesta ini. Pemazmur memiliki alasan tersendiri untuk memuji TUHAN, yaitu sebagai Pencipta, IA tidak membiarkan ciptaanNya itu binasa. Melainkan dengan kemuliaanNya, IA melindungi ciptaanNya itu. Sebab itu seluruh ciptaan TUHAN memuji namaNya yang kudus.
Pujian itu layak diberi kepada TUHAN, sebab apa yang IA jadikan itu sempurna dan tidak ada yang berubah. Segala perbuatanNya itu baik. Malah orang-orang muda dan orang-orang yang hina sekali pun diberiNya kehormatan, supaya mereka jangan dianggap sebelah mata. Mereka mendapat perlakuan yang adil, sebab TUHAN mencintai keadilan. Bahwa IA menciptakan dunia ini juga dengan adil.
Para raja dan orang yang berkuasa pun memuji TUHAN, sebab TUHAN-lah yang memampukan mereka melakukan segala tugas dan perannya. Kemahakuasaan TUHAN lah yang membuat semuanya itu, sebab itu baiklah kita memuji namaNya untuk seterusnya dan selamanya. Haleluya.

Minggu, 29 Desember 2013

Dia Lebih, Dibandingkan Aku


[Yohanes 1:24-28]
M
ungkin ada sedikit orang saja yang tulus mengakui kelebihan orang lain. Padahal jika kita tulus mengakui kelebihan orang lain, tidak ada ruginya pula bagi kita. Sebaliknya kita mendapat motivasi untuk semakin meningkatkan kualitas diri kita.
Belajar mengakui kelebihan orang lain sebenarnya adalah belajar bersyukur bahwa TUHAN adil, memberi kepada setiap orang kelebihan masing-masing supaya saling melengkapi. Jadi kita tidak melakukan semua tugas sendiri, melainkan kita cukup melakukan bagian tugas/peran kita saja.
Teks hari ini mengajarkan kita bagaimana mengakui kelebihan orang lain. Ini tergambar dalam pengakuan Yohanes Pembaptis mengenai siapa dirinya, dan apa tugas serta keterbatasannya. Dan dalam hal itu Yohanes langsung menunjuk kepada Yesus yang memiliki keutamaan yang lebih daripadanya.
Walau demikian, Yohanes telah menjalankan tugas utamanya itu dengan penuh rasa tanggungjawab. Nilai lebih Yohanes terletak di situ, bahwa ia menjadi pendahulu bagi datangnya seorang mesias yang akan melakukan suatu hal yang jauh lebih besar daripada dirinya. Itu sama sekali tidak mengecilkan arti diri seorang Yohanes Pembaptis. Kehadiran Yesus justru membuat tugas Yohanes Pembaptis itu memiliki nilai yang luhur.
Dalam hidup ini, kita pun mungkin hanya dapat melakukan peran yang kecil dalam penilaian kita dan orang lain. Namun itu tidak lalu mengecilkan arti diri kita sebagai orang yang dipercayakan untuk melakukan peran itu. Justru ketika kita dipercayakan suatu peran, di situlah kita adalah sosok yang penting. Diri kita dinilai layak untuk menjalankan peran itu, sehingga mesti dapat dijalankan dengan bertanggungjawab.
Jika atas peran itu, kemudian muncul sesuatu yang besar, dan itu dilakukan oleh orang lain setelah kita, kesukacitaannya ialah, kita telah menjadi orang yang pertama mempersiapkan keberhasilan itu.