1 Timotius 5:3
“Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya
mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri
dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang
berkenan kepada Allah.”Suatu ketika seorang pengusaha sukses yang memiliki bisnis yang maju mengundurkan diri ketika sang istri meninggal dunia, Maka dia pun berjuang untuk mendidik anaknya dengan memberikan pendidikan yang terbaik dikotany hingga pada akhirnya sang anak bisa hidup mandiri dan menjadi seorang sarjana
Ketika sang anak menikah, Si ayah yang
tidak lain adalah pengusaha sukses tadi memberikan ijin kepada anak
tunggalnya untuk tinggal diapartemen miliknya, terbayanglah
difikirannya, kehidupannya akan dipenuhi dengan senyum dan tawa
kebagiaan dari anaknya, menantunya dan cucu-cucunya, karena itu sang
ayah mewariskan seluruh hartanya kepada anak tunggalnya melalui notaris
kepercayaannya.
Hingga pada suatu waktu terjadilah
pertengkaran antara dia dan anaknya yang membuat sang ayah terusir dari
rumahnya sendiri, sang ayah tidak bisa berbuat apa2 karena rumah
miliknya dan segala kekayaannya telah diwariskan oleh putra
satu-satunya. Sang ayah yang malang itu pun tidak memiliki apa-apa lagi .
Karena usianya yang sudah lanjut dan tidak memungkinkannya untuk berkerja dia terpaksa menjadi pengemis di Orchard Rd.
Suatu hari, tanpa disengaja teman
bisnisnya yang dulu memberikan sedekah, alangkah terkejutnya rekan
bisnisnya dia langsung menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya
dulu. Tentu saja, si ayah malu danmenjawab bukan, mungkin Anda salah
orang, katanya.
Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak
ada kabar beritanya. Kemudian, rekan bisnisnya itu tetap yakin kalau
yang menjadi pengemis tua di Orchard Rd itu adalah mantan rekan
bisnisnya yang paling sukses dahulu
Maka Dia mengabarkan hal ini kepada
teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi
orang tersebut. Dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis
tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya.
Maka, terjadilah kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana
merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.
Berita kedurhakaan seorang anak kepada
orang tuanya itu akhirnya terdengar ke telinga Lee Kwan Yew yang waktu
itu masih menjabat sebagai Perdana Menteri Singapore
PM Lee sangat marah dan langsung
memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan
dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan PM Lee mengatakan ”Sungguh sangat
memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti kalian” .
Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan
saat itu juga surat warisan itu dibatalkan demi hukum! Dan surat warisan
yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh
PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah diwariskan tersebut
kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan sejal saat itu anak menantu itu
dilarang masuk ke Apartment ayahnya.
Setelah peristiwa tersebut dan sebagai
orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para
lanjut usia (lansia). Sehingga agar kejadian serupa tidak terulang lagi,
PM Lee mengeluarkan Kebijakan Dekrit yaitu “Larangan kepada para orangtua untuk tidak mengwariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal.
Kemudian,agar para
lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia
buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar
para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai
penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada
cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri. selama 1 tahun bekerja.
PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang bijak khususnya buat anak-anak dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan
hina, sehingga anak-anak tsb dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai
orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya.
Anak di sana dididik menjadi bijak dan
terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun
kondisi orangtuanya. Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk
atau berdiri, atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat
tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.
kita semua seolah-olah diberikan
pelajaran berharga dari PM Lee bahwa kita harus berbakti kepada orang
tua, apapun kondisinya kita juga diajarkan agar selalu mengenang saat
kita masih balita, orangtua kita yang membersihkan tubuh kita semua
bentuk kotoran, juga yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan
tangan orang tua kita sendiri, dan menggendong kita walalau kita
menangis dini hari orang tua kita juga yang sabar merawat kita ketika
sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar