Namun kenyataan bahwa banyak rumah tangga Kristen tidak dikendalikan oleh firman Tuhan.
Bicara soal keluarga erat hubungannya soal lembaga pernikahan. Pernikahan ada di dunia ini bukan karena kebetulan atau karena kemauan manusia.
Jadi, pernikahan adalah rencana Allah yang indah untuk kebahagian manusia (Kej 1.26-28; 2.18-25).
Mengapa Tuhan marah kepada bangsa Israel bahkan tidak lagi mendengarkan suara doa
dan tangisnya?(Maleaki 2.13-16). Mereka tidak setia kepada pasangan
hidupnya, terjadi kawin campur sehingga iman mereka tidak kudus
dihadapan Tuhan, jatuh pada dosa.
Dengan itu maka iman mereka tidak lagi hanya kepada Allah namun sudah ikut menyembah dewa. Menajiskan perjanjian Allah
(ay 10) penghianatan terhadap iman dan menajiskan tempat kudus (ay 11),
dan juga ketidaksetiaan (ay 14) maka mereka tidak dapat membedakan mana
yang benar dan yang salah (bng Yes 61.10; Efs 4.22-24; Kol 3.9-10).
Mereka kembali kepada sikap dan tindakan yang lama dasar hidup yang rapuh (lih Mal 3.7). Kemarahan Tuhan terjawab ketika bangsa ini kembali kepada Tuhan atas tagisan dan doa pertobatannya(Mal 3.10) ketika firman menjadi dasar hidup maka berkat-berkat Tuhan akan dirasakan/nikmati.
Ketika mereka hidup dalam iman yang setia maka jawaban Tuhan terbukti dengan tindakan atas janji kesetiaanNya dikatakan; ”Mereka
akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam,
pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti
seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (Mal 3.17).
Surat Paulus kepada jemaat di Efesus
juga menasehati istri dan suami agar tunduk dan setia dengan pasanganya
sama seperti kepada Tuhan (efs 5.22; Kej 3.16; Kol 3.18).
Dengan tujuan agar dasar keluarga yang diikat oleh kesetiaan, saling menghargai.
Dasarnya ialah; 1).ikatan cinta kasih (Kol 3.18-19). 2).Hidup dalam pengudusan (1 Tes 4.4-5), 3). jauh dari penghianatan(Amsal 12.4).
Ketika hubungan ini setia dan didasari kasih sayang maka berkat Tuhan akan berlimpah ruah. Keluarga Kristen merupakan gambaran ketaatan dan kesetiaanNya dalam tugasNya memberikan keselamatan.
Paulus mengatakan ”Dan dalam
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai
mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2.8).
Banyak keluarga
diambang kehancuran karena berbagai alasan; tidak cocok lagi,
selingkuh, hempitan ekonomi dan juga karna tidak adanya keturunan.
Mengapa ini bisa terjadi? Sebab mereka tidak didasari TuhanBeda: Percobaan (dari Setan) dan Ujian (dari Tuhan). Read more ... » Yesus, tidak diikat cinta kasih, pernikahan
tidak kudus dan tindakan penghianatan pada ”Janji Suci” yang
dinyatakan ketika menerima pemberkatan nikah dihadapan Tuhan. Siapapun
orangnya tidak mau dikhiati! (Mal 2.16).
Ada juga rumah tangga berjalan tanpa
ada nakhodanya, suami cari makan dan istri sibuk dengan urusan diri
sendiri, anak beranntakan sehingga hubungan harmonis hilang ditelan
sifat egois, cuek dengan dirinya sendiri sehingga tidak ada kedamaian,
tidak ada lagi kesetiaan.
Kita harus mempunyai sikap yang berbeda dengan dunia yang tidak mengenal Tuhan, kita harus hidup tunduk, taat bersikap setia dengan kata lain kita harus tetap setia.
Allah merencanakan kebahagian yang
diikat oleh kasih Allah. Kebahagian dimiliki oleh tiap pasangan yang
didasari oleh sikap taat, setia, rasa hormat dan menjadi satu daging.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar