Jumat, 20 Desember 2013

Jangan Tinggal Diam


[Lukas 12:47-48]
A
da banyak aturan dalam hidup berkeluarga yang telah disepakati dan mesti dijadikan bagian dari pedoman kehidupan. Aturan-aturan itu tidak boleh dilanggari secara sengaja maupun tidak. Sebab, bisa menimbulkan keretakan, misalnya antarsuami-isteri. Atau pula menyebabkan ketidaktertiban hidup, misalnya antaradik-kakak. Setiap kita melanggar aturan-aturan itu, pasti ada masalah, seperti ‘baku marah, laeng seng mau bicara deng laeng’, dan sebagainya.
Ringkasnya ialah, siapa melanggar aturan atau pedoman hidup yang baik, hidupnya diburu masalah. Selain hidup dalam suasana relasi yang kurang akur/kurang mesra, tetapi juga diliputi rasa cemas, takut, dan bisa saja membuat kita kehilangan konsentrasi untuk melakukan suatu aktifitas.
Sebab itu,penting kita memahami sebuah aturan hidup, atau aturan dalam bekerja/di tempat kerja, supaya kita dapat melakukan peran kita secara maksimal, dan relasi kita dengan setiap orang dalam hidup dan di tempat kerja kita itu berlangsung secara harmonis, rukun, saling mendukung.
Teks kita hari ini mengajar kita untuk memahami bahwa inti dari hidup sebagai hamba TUHAN adalah yakin bahwa, status sebagai suami, isteri, kakak, adik; pekerjaan semisal PNS, bertani, nelayan, pedagang papalele, pendayung perahu, tukang ojek, tukang bangunan, penjaga kantor dan sekolah, peternak, adalah panggilan yang kudus. Dan bahwa dalam setiap status dan pekerjaan itu, ada aturan-aturan hidup dan kerja yang tidak boleh dilanggar seenak hati kita.
Sebaliknya atas status dan kerja itu, setiap aturan di dalamnya wajib dituruti, supaya kita dapat melakukannya dengan hati dan pikiran yang tenang, tanpa diburu rasa takut, cemas dan sejumlah rasa bersalah. Melainkan melakukannya dengan jujur, sungguh-sungguh, setia demi kebahagiaan semua orang. Di situlah seorang hamba akan semakin berkualitas.

Salam dengan Cium Kudus

 [2 Korintus 13:11-13]
K
embali ke pokok memberi salam, seperti yang sudah kita refleksikan di hari kemarin. Hari ini, ada satu hal lagi dari cara memberi salam, yaitu memberi salam dengan cium kudus. Kiranya ini tidak dipahami seperti kebiasaan banyak orang yang setiap bertemu lalu memberi cium pipi kiri, pipi kanan [cipiki cipika]. Sebab ada esensi penting lain dari ‘cium kudus’ ini.
Setiap masyarakat memiliki kebiasaan dalam tatkala berjumpa. Ada yang berpelukan; ada yang sebatas bertegur sapa; ada yang berjabat tangan; menepuk pundak; ada yang memberi ciuman di pipi, bibir, hidung, dahi; atau cium tangan.
Salam dengan ‘cium yang kudus’ dalam kebiasaan masyarakat Yahudi seperti dalam teks ini, diberikan kepada mereka yang sudah sangat dekat satu sama lain. Tidak ada unsur eros/birahi dalam praktek ini. Ini dilakukan oleh seorang yang telah menjadi pemimpin/pelayan kepada Jemaatnya yang sudah lama tidak jumpa.
Di hati mereka sudah seperti saudara sendiri, walau mereka tidak memiliki hubungan darah. Dan yang mengikat mereka menjadi seperti saudara itu adalah iman atau kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada TUHAN. Mereka terikat oleh komitmen iman untuk hanya percaya kepada TUHAN dan menuruti ajaran-ajarannya tanpa kecuali. Iman itu pula membuat mereka berkomitmen memelihara persekutuan iman di antara mereka.
Rasul Paulus menegaskan hal ini, kepada orang-orang Kristen di Korintus, yang telah berkomitmen percaya hanya kepada Yesus dan memelihara persekutuan gereja yang telah terbangun di antara mereka. Di antara jemaat itu ada kesehatian satu sama lain [ay.11 – sehati sepikir]. Hal sehati sepikir itulah yang membuat mengapa salam kepada mereka ditujukan, karena mereka kedapatan memiliki kualitas dalam memelihara hidup bergereja.

Percaya Kepada Allah Saja

[Yeremia 22:8-9]
M
inggu Adventus I akan kita akhiri di hari ini. Artinya, renungan kita tentang hidup dan keadilan, kiranya memperkokoh semangat kita untuk memulihkan persekutuan rumah tangga, jemaat dan masyarakat. Adventus I ini berpuncak pada sebuah janji iman bahwa: ‘kita tidak mau terus terpuruk dalam kesalahan dan kealpaan, sekedar menjadi orang baik karena Natal; sekedar berubah karena musim Natal.
Teks kita jika dibaca dalam bentuk yang positif, mengandung pesan bahwa, untuk memperoleh kasih karunia TUHAN yang melimpah, kita harus benar-benar hanya percaya kepada TUHAN dan beribadah pula hanya kepadaNya.
Manusia tidak punya pilihan lain selain beriman kepada TUHAN dan beribadah kepadaNya. Sebab itu, Adventus Natal mengajak kita untuk merenungi bahwa, Natal secara ritual merupakan suatu peristiwa berulang sepanjang tahun. Namun pengulangannya menegaskan bahwa, iman kepada Yesus Kristus adalah sebuah penegasan jati diri keagamaan yang harus semakin transformatif.
Sebab Yesus bukan lagi seorang bayi.  Yesus telah ada di dalam ruang penghayatan kita. AjaranNya sudah harus menjadi kekuatan dalam kita berkarya. Ia telah menjadi bagian dari sekian banyak upaya memulihkan persekutuan rumah tangga. Ia selalu menjadi jawaban atas berbagai hal yang kita doakan. Ia selalu menjadi sandaran tatkala kita mengalami berbagai masalah. Ia selalu menjadi tumpuan untuk melangkah selepas sebuah pengalaman pahit yang kita alami. Dan ia tetap menjadi TUHAN yang hidup dan berkarya di antara kita.
Adventus I Natal ini kiranya semakin mempersiapkan kita untuk dengan iman itu, kita terus bergumul dan mempersiapkan diri untuk tugas-tugas besar yang harus kita jalankan. Sebab Natal adalah masa di mana kita merealisasi agenda damai sejahtera Allah.

Lakukanlah Keadilan

[Yeremia 22:1-3]
S
uatu pagi, seorang anak bangun dari tidurnya. Ia mendapat pesan di secarik kertas yang bertuliskan: ‘sarapan ada di meja. Uang jajan di tempat biasa. Kunci pintu nanti ditaruh di bawah keset kaki.” Rupanya hal itu sudah rutin ia dapati setiap pagi, karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya.
Suatu hari, ketika orang tuanya pulang dari kerja. Anak mereka tidak ada di rumah. Pesan serupa terus ditinggalkan. Dan selama seminggu, hal itu terus terjadi. Sang anak tidak di rumah, tetapi orang tua tetap menuliskan pesan tersebut kepada anak mereka.
Tiba-tiba, mereka mendapat telepon yang mengatakan bahwa anak mereka sedang di rumah tahanan kepolisian karena ditangkap mengadakan pesta narkotika. Kedua suami isteri itu bergegas menuju kantor polisi. Setiba di sana, mereka hanya bisa saling menatap. Dan si anak itu berkata: ‘papa dan mama sudah membaca pesan saya di atas meja?’
Ternyata sebelum anak itu meninggalkan rumah seminggu lalu, ia menulis pesan di secarik kertas dan diletakkan di meja kerja kedua orang tuanya. Pesannya berisi: ‘sarapan tidak saya makan. Uang jajan tidak saya  ambil. Kunci tidak saya pindahkan. Tetapi saya akan ada di rumah teman dan akan pindah ke rumah tahanan polisi. Jangan jenguk saya. Sebab saya tahu saya salah’.
Cerita itu mau menegaskan bahwa, setiap saat kita mendapat peluang untuk melakukan keadilan kepada anak atau sesama. Peluang itu tidak boleh disia-siakan. Sebab itu, jangan salah memperlakukan anak atau orang tua, atau sesama kita. Perlakukanlah semua orang sesuai dengan harga diri dan martabatnya. Dan bertanggungjawablah atas apa yang menjadi panggilan hidup dan tugas kita. Dengan demikian, kita meninggalkan pesan-pesan hidup yang menguatkan satu sama lain setiap hari.

Hidup Tenteram, Itu Obat

[Yeremia 23:5-6]
N
atal selalu juga dinamai ‘hari penuh damai’. Natal seakan menghipnotis semua orang, sehingga tanpa disuruh, semuanya ingin hidup tenang, penuh sukacita, tidak bertengkar, dan sebagainya. Semua perilaku etik dibenahi, agar menjalani natal ‘deng sagala bae’.
Memang suasana hidup seakan berubah cepat di masa-masa menjelang dan selama Natal. Itu menandakan bahwa manusia selalu ingin menjadi baik atau berubah ke arah yang baik. Masa Natal pun selalu menjadi waktu yang tepat untuk ‘biking bae’ relasi antarmanusia. Dahulu, waktu ‘kawin lari’ masih sering terjadi, waktu baik untuk ‘minta ampong’ adalah masa Natal. Ringkasnya, semua rasa marah sirna pada saat Natal.
Hidup senang, tenteram itu ternyata tidak sulit diciptakan. Caranya pun mudah. Yaitu kita harus saling bertemu dan berkomunikasi. Dengan saling bertemu, kita mengeratkan kebersamaan dan merawat persekutuan. Sebab itu, pertemuan yang berkualitas adalah pertemuan yang selalu diciptakan melalui kesediaan untuk terus berjumpa satu sama lain.
Dengan saling berkomunikasi, kita mempersempit ruang kesalahpahaman dan mengatasi rasa penolakan satu sama lain. Komunikasi bukan saja proses pertukaran pesan, melainkan juga upaya untuk saling mengoreksi dan membenahi seorang terhadap lainnya. Upaya untuk saling memahami kebutuhan dan juga menyepakati tugas-tugas bersama.
Teks kita menegaskan bahwa, seorang pemimpin yang baik, yang diutus TUHAN ke dalam persekutuan umat [keluarga, jemaat, masyarakat] akan adalah yang mau terus bertemu dan berkomunikasi dengan anggota keluarga, jemaat atau masyarakatnya. Di situlah ia telah menciptakan suasana hidup yang tenteram sehingga persekutuan di antara mereka terawat baik. Natal adalah masa meningkatkan kualitas pertemuan dan komunikasi antarmanusia.

Oh Gembalaku…..

[Yeremia 23:1-4]
Y
esus memberi ilustrasi yang menarik tentang seorang gembala yang baik. Dari sekian banyak citra dirinya, ada satu yang menarik yaitu, gembala itu mengenal domba-domba, dan memanggil domba-dombanya sesuai dengan namanya, serta domba-domba itu mengenal suara gembalanya [baca. Yoh. 10:3-4]. Jadi tidak mungkin terjadi ‘salah panggel” atau ‘salah kanal’, dan domba juga tidak mungkin ‘datang salah orang’ atau ‘datang pada gembala yang salah.
Dalam Teks kita ini. TUHAN mengambil prakarsa baru untuk menyelamatkan umatNya dengan jalan mengangkat gembala yang baik di tengah mereka. Prakarsa TUHAN ini terjadi karena umatNya telah hilang arah. Mereka tidak mendapatkan pemimpin yang baik. Sebab itu, mereka [yang telah terserak], tidak bisa disatukan. Persekutuan di antara mereka rapuh, karena tidak ada sosok teladan yang dapat mempersatukan mereka kembali.
Dalam realitas seperti itu, TUHAN kembali berprakarsa untuk mengagkat gembala yang baik, agar umatNya tidak tercerai lagi [ay.4]. Tujuan dari prakarsa TUHAN itu ialah untuk menghimpunkan kembali, dan untuk meningkatkan persekutuan di antara umatNya.
Ada proses pemulihan yang TUHAN hendak kerjakan, namun dengan menetapkan gembala yang baik. Dengan demikian kita diajak untuk tetap menjadi pemimpin yang dapat diteladani. Mulai dari dalam rumah tangga, setiap suami/papa harus mempersatukan rumah tangganya. Dalam Jemaat, setiap pelayan [gembala] harus mengutuhkan ikatan hidup jemaat dan meningkatkan rasa memiliki kepada Gereja dan panggilan kudus. Dalam masyarakat, para pemimpin harus menjadi gembala yang baik, supaya persatuan dalam masyarakat terbina sebagai kekuatan untuk terus maju dan bertumbuh.

Janji Yang Ditepati


[Yeremia 33:14-16]
S
ebuah syair yang indah berbunyi begini: ‘Janji yang manis, Kau tak dilupakan….”. Syair itu adalah tembang rohani yang abadi, sebagai lukisan maha sempurna tentang betapa TUHAN itu adil memperlakukan umatNya. Jika kita merefleksikan hubungan kita dengan TUHAN, maka kita akan menemukan satu rahasia kecil, yaitu hubungan indah ini terjadi karena TUHAN yang berinisiatif mengadakannya.
TUHAN tidak main-main, ketika mengambil inisiatif untuk berhubungan dengan manusia. Bukti bahwa IA tidak main-main adalah IA membuat perjanjian luhur dengan manusia. Dan isi perjanjian luhur itu adalah bahwa IA akan menyelamatkan umatNya, dan IA akan tetap setia pada janji itu.
Bahkan ketika manusia melanggar ikatan janji itu, atau ketika manusia melakukan banyak perkara dosa sekali pun, IA tetap setia, sebab IA tidak bisa menyangkali diriNya sendiri. Yaitu IA adalah TUHAN.
Teks kita menegaskan bahwa, oleh karena TUHAN itu setia, maka IA akan ‘melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri’ [ay.15]. Kalimat ini sederhana namun mengandung pesan yang sangat kuat. TUHAN melaksanakan keadilan dan kebenaran. Artinya IA bertindak. Di tengah berbagai praktek ketidakadilan, akibat penyelewengan hukum dan ketidaktaatan manusia, TUHAN dikabarkan ‘melaksanakan keadilan dan kebenaran’. IA bukan hanya tidak tinggal diam, melainkan IA bertindak langsung untuk menunjukkan dan menjaminkan keadilan dan kebenaran di negeri.
Sebab itu, manusia harus beriman, bahwa segala perjuangan demi kebenaran dan keadilan, diperjuangkan bersama-sama dengan TUHAN, yang kita akui sebagai ‘TUHAN keadilan kita’ [ay.16]. Jadi, percayalah bahwa IA menepati segala yang dijanjikanNya. Natal adalah wujud TUHAN menepati janjiNya.